RSS

Kerangka Cerpen. Belajar Membangun Kerangka Karangan No.02

0 komentar

Kerangka cerpen kembali akan menjadi tema tulisan kita kali ini. Setelah kita kenal salah satu kerangka karangan dengan alur seperti di dalam artikel kerangka karangan no.01, kita akan beranjak ke kerangka karangan selanjutnya.

Kerangka karangan yang akan kita bahas kali ini adalah kerangka cerpen dimana para penulis pemula lebih PD untuk menulis cerpen daripada menulis novel. Maka kali ini kita belajar membangun kerangka unik dalam cerita yang pendek.

Cerpen yang akan kita kupas kerangkanya adalah Cerpen berjudul "HELKOIS, HELIKOS DAN RAMALAN KATAK HIJAU" (selanjutnya akan disebut sebagai cerpen HHRKH) yang bisa anda baca di (klik) sini. Cerpen itu saya tulis sebagai miniatur atau contoh kecil kerangka karangan Novel Api, Awan, Asap karya Bapak Korie Layun Rampan yang memiliki alur cerita sangat unik. Kalau mempelajarinya dari novel langsung mungkin penulis pemula seperti kita akan kesulitan dalam mencerna dan mengurai alur cerita. Maka kali ini kita coba urai alur semacam itu yang di tampung wadah sebuah cerpen.


 Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari di sini, diantaranya :

Karakter
Walau tidak sama persis, kali ini saya mencoba menghadirkan karakter tokoh yang unik dan berbeda. Sampai mati-matian memakai nama aneh Helikos dan Helkois segala, adalah upaya saya membentuk karakter tokoh yang unik. Tidak hanya nama, namun juga pekerjaan, isi pikiran, kalimat yang diucapkan, tingkah dan banyak hal yang bisa kita bubuhkan untuk menegaskan karakter tokoh. Kalau di Novel Api Awan Asap ada karakter Nori si isteri setia dan suaminya, Jue yang pantang menyerah meski seakan dia tidak akan bisa lagi hidup di atas Bumi.

Konflik Cerita
Di cerpen HHRKH kita temui beberapa konflik yang akhirnya mengarah pada satu titik yang mempertemukan dengan jelas berbagai konflik itu. Di dalam kehidupan nyata, kita biasa bete' dengan berbagai masalah yang kita hadapi, namun beberapa waktu kemudian kita menyadari bahwa masalah-masalah yang kita hadapi pada akhirnya akan memberikan hikmah. Inilah yang sering dikatakan orang sebagai Takdir Tuhan.

Kini takdir para karakter tokoh cerpen yang ada di cerpen kita ada ditangan kita. Kita yang akan mengatur mereka terlahir sebagai apa dan siapa, apa dan siapa yang hidup di sekitar mereka, sifat dan sikap mereka. Kita juga akan menentukan masalah-masalah apa yang akan mereka hadapi dan hikmah atau titik akhir yang bagaimana yang akan mereka alami. Semakin kreatif kita menciptakan masalah, dan semakin rapih kita mengaturnya akan membuat cerita kita semakin berkualitas.

Alur Cerita
Nah ini yang menjadikan Novel Api Awan Asap begitu berkesan di hati saya selain konflik-konflik yang terjadi di novel itu. Ada yang bilang begini "Alur Novel Api, Awan, Asap itu maju-mundur berkali-kali tapi dibawakan dengan sangat halus sehingga kita tidak merasa kejedok depan, lalu kita mundur, kejedok belakang kita maju, maju-mundurnya itu terasa mengalir terus ke depan". Di sini susahnya, ada banyak bab cerita yang ada di novel Api, Awan Asap, di setiap bab mengandung cerita sekarang dan cerita jaman lampau dengan berbagai konflik yang awalnya semakin membingungkan, tapi konflik-konflik semakin jelas titik temunya di saat cerita masa lalu dan masa sekarang bertemu. Memang sedikit rumit, kita butuh bantuan cerpen HHRKH lagi nih..

Alur cerpen KKRKH saya pisah per bagian dengan tanda "..." agar mempermudah pembaca menandai mana yang alur mundur (cerita masa lalu) dan alur maju (cerita sekarang). Cerita masa lalu milik Helkois dan cerita masa kini Helikos masing-masing memiliki konflik dan kejadian di waktunya masing-masing. Namun pada akhirnya tokoh dan alur cerita bertemu di satu masa yang juga menjadi titik temu dari berbagai konflik yang terjadi sebelumnya.

Walaupun tidak bisa sehalus Api, Awan, Asap, alur cerpen KKRHK mampu membantu saya menunjukkan poin-poin penting kerangka karangan novel tersebut.

Kerangka karangan dan beberapa poin cerita saya cukupkan sekian dulu dalam artikel ini. Semoga lain kali kita bisa memahami kerangka cerpen lebih jauh lagi.
Continue Reading... Label: , , , , , , , , ,


Cerpen Kompas. Analisis Cerpen Seorang Kawan

0 komentar

Cerpen Kompas, tidak diragukan lagi telah menjadi wahana cerpen berkualitas nasional. Baik penulis, peminat, komentator dan pembaca selalu fokus perhatiannya kepada Cerpen Kompas. Seakan-akan kini standard kualitas cerpen Indonesia dapat diukur dari cerpen-cerpen yang ditayangkan Kompas. Hal ini bisa dipahami karena memang kualitas cerpen yang diterbitkan dinilai tinggi dan harus melalui seleksi tim seleksi Kompas.

Penulis sendiri telah beberapa kali menulis cerpen meskipun tidak ditujukan untuk diterbitkan di Koran Kompas karena sadar diri akan kualitas yang belum maksimal. Disamping itu saya memiliki seorang kawan yang berlangganan Koran Kompas hanya ketika Cerpen Kompas terbit. Dia sering membuat analisis cerpen sehingga terbiasa menilai-nilai diksi, amanat, alur cerpen dan berbagai gaya bahasa yang ada dalam sebuah cerpen. Dasar pendidikannya yang sedang dalam program perguruan tinggi jurusan strata Sastra Inggris juga mendukung dalam menambah modal kemampuannya analisis cerpen.

Setelah tahu saya punya beberapa cerpen, dia langsung minta untuk diperlihatkan. Nalurinya sebagai analisis cerpen membuatnya langsung merasa penasaran ketika didapatinya ada kenalan yang memiliki cerpen baru. Lalu saya berikan naskah cerpen saya yang saya tulis di saat-saat SMA.

Beberapa hari setelah membaca beberapa cerpen saya, dia mulai menyatakan komentarnya. Saya tahu akan banyak kekurangan karena saat cerpen itu saya baca sendiri (lagi, setelah beberapa tahun), ada beberapa kekurangan yang lucu dan membuat diri saya malu sendiri. Tapi mari kita simak apa komentar kawan saya ini, yang pastinya dia akan menggunakan standard Cerpen Kompas sebagai patokan penilaian.

"Cerpenmu temanya bagus. Cerita-cerita unik dan belum ada di cerpen-cerpen sebelumnya (kebanyakan). Kamu juga sudah bisa mengatur alur, walaupun kalau dilatih lagi bakal lebih top. Tapi di sini bahasa kamu terlalu lebay. Terlalu berat. Terutama di cerpen yang judulnya "Kemuning", itu ada kalimat kalau nggak salah "Seperti ada sisi simetris antara mistis dan spiritual yang agung" itu kalimat keberaten banget. Sebaiknya kalimat sederhana, tapi amanat tersampaikan. Coba banyak-banyak baca buku EYD juga".

"Kalau di Kompas... . " Nah mulai masuk kemari nih. Mari kita lanjut.

"Cerpen Kompas kebanyakan sederhana gaya bahasanya. Tapi maksud yang disampaikan bisa benar-benar dipahami dan berhasil memberikan efek kepada pembaca. Tema yang diambil unik, atau tema biasa yang diambil dari sudut pandang yang unik".

Saya akui, "Kemuning" memang cerpen yang saya tulis di usia remaja. Jadi dalam proses penulisannya saya tumpahkan seluruh perbendaharaan kata yang saya miliki. Semua saya semuakan agar benar-benar maksimal dan ini bukan hal buruk. Hanya saja komentar kawan saya tersebut memang layak dijadikan referensi bahwa kadang diksi yang muluk-muluk malah tidak cocok dengan suasana pembaca atau suasana cerpen.

Cerpen Kompas kemungkinan besar memiliki kriteria yang seperti itu. Gaya bahasa sederhana, EYD, tema unik dan amanat yang mampu memberikan efek kepada pembaca. Semoga sekali atau beberapa kali, cerpen kita bisa dimuat di Cerpen Kompas. Amin.
Continue Reading... Label: , , , , , , , , , ,


ARTIKEL MENARIK LAINNYA

 

Follower

Anda Pengunjung ke

Return to top of page Copyright © 2010 | Flash News Converted into Blogger Template by HackTutors