RSS

Contoh Cerpen Kehidupan. KACAMATA LALA

0 komentar

Dua lenganku selalu mengait kedua telinganya. Tercantol begitu di wajahnya yang imut. Lala mulai memakaiku setelah vonis dokter bahwa matanya minus. Aku menemaninya setiap waktu. Aku bertugas membantu penglihatannya, tugas yang membuat aku tahu setiap apa yang diketahuinya. Aku juga harus melindungi matanya. Pernah suatu ketika beberapa anak laki-laki kelasnya, teman-temannya yang tergabung dalam gank brandal cilik, menyemburkan pasir ke wajah lala. Membuat wajahnya kotor penuh tanah debu, kecuali bagian mata. Tapi dia tidak menangis, aku tak melihat air setetespun di matanya. Walau ceria dan centil, dia adalah gadis cilik yang kuat dan tangguh. Selain bisa melihat apa yang dia lihat, aku juga bisa menoleh ke belakang untuk melihat matanya. Ketika dia melihat seragam barunya dengan mata gembira, ketika dia melihat teman-teman barunya dengan sorot mata keakraban, ketika dia melihat kilat petir dengan mata terkejut, dan yang paling sering adalah ketika akhir-akhir ini matanya selalu tersayat-sayat penuh emosi dari adegan-adegan yang bahkan samasekali tak dipahaminya, Sinetron.

Dulunya dia tidak begitu. Dulu dia tak suka sinetron. Dia adalah anak normal, seperti juga teman-temannya, seperti juga anak-anak TK dimana-mana, suka bermain boneka, bongkar pasang dan masak-masakan. Dulu dia juga adalah anak kecil yang setiap sore membawa kardus penuh mainan keluar ke teras rumah, mencetak tanah basah menjadi bentuk-bentuk kue-kue, atau juga mengejar kupu-kupu atau capung. Selalu aktif dan ceria. Bahkan beberapa kali menjuarai lomba baca puisi tingkat TK se-kecamatan. Semua tetangga dan gurunya turut membanggakannya. Namun yang seharusnya adalah orang yang paling bangga malah meghancurkan semuanya, kekreativitasan Lala, masa kecil dan masa depan Lala, harus hancur atas ulah ibunya sendiri. Wanita tengik dengan mata yang berkilat-kilat ketika mendengar gosip baru artis atau ketika dapat bocoran kejelekan salahsatu tetangganya.

cerpen pengalaman pribadi, contoh cerpen pengalaman pribadi, cerpen pengalaman, contoh cerpen pengalaman, kumpulan cerpen pengalaman pribadi, cerpen pribadi, cerpen pengalaman sendiri, contoh cerpen pribadi, contoh cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, kumpulan cerpen pengalaman, contoh cerpen pengalaman sendiri, kumpulan cerpen pribadi, menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, cerpen dari pengalaman pribadi, kumpulan cerpen pengalaman sendiri, contoh cerpen dari pengalaman pribadi, cerpen kehidupan, contoh pengalaman pribadi, cerita pengalaman pribadi, contoh-contoh cerpen, cerpen kehidupan sehari-hari, cerpen pengalaman hidup, contoh cerita pengalaman pribadi, contoh cerita pengalaman, contoh cerpen bahasa indonesia, kumpulan cerpen kehidupan, cerpen pengalaman diri sendiri




Ibu Lala-lah yang dulu terlihat kelewat serius memelototi kemelut di-TV yang tak pernah reda. Tak ketinggalan pula acara gosip-menggosip dari semua chenel TV. Selalu saja ada sesuatu yang baru, tak pernah habis konflik demi konflik mendera mata dan otak. Dan dari semua itu, tak boleh ada yang tertinggal bagi Ibu Lala. Ibu Lala tak akan beranjak mencuci baju sebelum semua gosip ditelannya habis. Otak dan telinganya tumpul tak berfungsi ketika adegan paling seru-semrawut atau gosip terpanas mak-nyos ditampilkan di TV. Tak akan ada tamu yang dibukakan pintu walau telah mengetuk pintu selama dua jam sekalipun, tak akan ada panci air yang akan diangkat dari kompor walau sudah kering-gosong juga. Dipersembahkannya hidup demi melihat sinetron dan mendengar gosip. Dunianya berhenti di titik itu. Dan semua tingkah polah ibunya ini, terekam baik di mata Lala.
Ketika Lala minta diambilkan makan sepulang dari sekolah, tak akan diterimanya sebutir nasi-pun sebelum acara gosip siang berakhir. Ketika dia ingin melihat spongebob, sampai menangis seperti apapun, tak akan chenel berpindah hingga adegan terakhir sinetron petang episode hari itu usai. Pernah juga anak dan ibu itu bertengkar seru memperebutkan remot TV. Ku tengok ke belakang, terlihat mata lala yang mengalirkan air kebencian begitu derasnya. Kupandang ke depan, terlihat ibunya mendelik merah, berkacak pinggang dengan remot tetap nyaman terlindungi dan tak pernah lepas dari genggaman eratnya. Mulut ibu lala juga mangap-mangap saat itu. Pasti-lah nama setiap hewan yang ada di kebun binatang Surabaya disebutnya satu-persatu untuk menghinakan Lala. Peperangan yang sungguh tidak sepadan. Bukan hanya tentang lawan yang tak sebanding tetapi juga karena penyebab yang begitu tidak pantas.

Keadaan seperti ini terus saja terjadi. Setiap waktu aku harus menyaksikan pertengkaran anak-beranak yang tak pernah terselesaikan. Tangisan dan cacian menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Setiap hari terdengar dari ruang tengah, ruangan yang berisi seperangkat sofa-meja, rak dan TV 29”, lengkap dengan VCD dan Sound system. Hingga akhirnya, makan siang yang telat dan chenel yang tak pernah terganti membuat Lala putus asa. Dia menyerah dan mulai ikut saja menonton sinetron dan gosip. Terus saja dia menahan lapar siang dan kerinduan akan tawa spongebob. Dia tahu bahwa dia kalah. Dia juga tahu bahwa keadaan tak akan pernah berubah. Maka dia turut mengalir saja mengikuti hulu-hilir sungai adegan-adegan yang tak pernah rampung. Turut tertipu masalah-masalah remeh yang malah menambah konflik di otak. Seperti pecinta-pecinta sinetron lain yang merasa belum cukup dengan kemelut hidupnya sendiri dan sehingga menambahi dengan kemelut-kemelut lain yang pastinya mbulet khas sinetron. Masih belum cukup kesulitan hidup mereka, pasti batin mereka masih cukup luas untuk menampung dan menanggung beban kehidupan tokoh-tokoh tipuan itu. Waktu-waktu mereka pun pasti telah kelewat banyak digunakan untuk hal-hal berguna, pasti sudah sangat banyak yang digunakan untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak dari trafficking, pasti juga sudah terlalu banyak digunakan untuk menorehkan tanda-tanda jasa sehingga telah waktunya waktu-waktu itu harus mereka gunakan untuk hal yang tidak berguna.

Selintas Lala melihat kalender. Mungkin menghitung hari ulang tahunnya yang masih dua bulan lagi. Aku tidak, aku malah menghitung bahwa hari itu adalah hari ke-tujupuluh empat setelah Lala menyerahkan matanya untuk gosip dan sinetron. Saat itu Lala telah terbiasa ikhlas nimbrung dengan ibunya terayun-ayun kerumitan yang dibuat-buat. Keduanya selalu murung-merenung menghayati cerita. Tak ada humor, tak ada tawa. Tak ada spongebob, tak ada ceria. Yang ada hanya ketegangan, emosi, amarah, dendam, kebencian, kekerasan dan gumpalan-gumpalan kotor lain yang selalu menyesaki dada. Kegeraman yang membara tak jarang terlihat pada dengusan mereka berdua. Tidak lagi karena terpaksa, kini Lala mulai menyukai semuanya. Apalagi kini sinetron dan infotainment lebih berariasi dengan karakter masing-masing. Tapi, padahal sama saja, intinya ruwet dibikin-bikin dan membongkar aib. Masa kanak-kanak Lala telah hilang dari sinar matanya. Telat makan siang tak pernah lagi jadi masalah. Perutnya tak pernah lapar di kala sinetron siang mulai disuguhkan. Hanya mata-lah yang selalu lapar akan keruwetan masalah orang dewasa. Sinetron dan infotainment yang setiap jam seperti selalu ada, bergantian, susul-menyusul-lah yang memenuhi waktu-waktu mereka berdua. Dan yang membuat bu Wati, guru TK dimana Lala sekolah, kawatir adalah PR Lala yang tak pernah dikerjakan satupun, garis paras Lala yang semakin hari semakin kaku, kukuh dan tegang. Selain itu, ternyata minat bermain Lala juga terkuras habis. Boneka dan capung tak pernah lagi tersentuh. Tak ada teman akrab yang berbagi bekal, tak ada lompat tali, dan tak ada puisi lagi yang keluar dari bibirnya. Kehidupan kanak-kanaknya telah hancur mendebu.

Tiap hari Lala diam di kelas. Meletakkan pipi di meja dan mulai mengenang adegan-adegan terdahsyat yang dia ingat. Ketika tokoh utama, seorang gadis yang cantik dan baik hati, dianiaya majikan wanitanya yang jahat, kriting dengan wajah yang tak pernah enak dipandangan mata, persis ibunya sendiri. Ketika seorang suami menampar istrinya yang baik. Ketika seorang anak laki-laki yang tampan ditinju bapak tirinya. Ketika harta warisan diperebutkan lima bersaudara yang antagonis semuanya. ketika seorang istri selingkuh dan menimbulkan prahara. Ketika seorang wanita diperebutkan dua pria dan sebaliknya. Ketika anak-anak putih abu-abu saling berebut pacar. Cinta si kaya dan si miskin yang terhalangi. Semuanya begitu sistematis terangkum dalam lembar-lembar hikayat otak Lala. Sambil berdiam diri di bangku, dikeluarkannya-lah lembar demi lembar itu. Diterawangnya jelas-jelas, seperti kacaku adalah layar TV saja. Layar kaca pribadi. Bahkan teman sebangku tak akan bisa melihat adegan-adegan yang dilihat Lala di kacaku. Semua akan terlihat begitu nyata bagi Lala, mengalir, hingga dia tertidur.

Yang seperti itu terjadi terus, semakin hari semakin mengakar parah. Hingga suatu hari, tiba-tiba Lala menghajar Dimas, salah satu teman sekelasnya yang termasuk dalam gerombolan gank berandal cilik, tanpa sebab. Bukan karena dia ditaburi pasir lagi atau dijambak rambutnya sehingga marah, ini benar-benar tanpa sebab yang bagaimanapun. Tak urung membuat ibu-ibu wali murid dan siswa-siswa lainnya mengerubungnya. Sebagian dari penonton-penonton itu adalah tetangga Lala yang juga mulai heran dengan perubahan Lala yang akhir-akhir itu tak lagi ceria, tak pernah lagi meminta buah jambu atau sekedar numpang bermain dirumah mereka. Segera setelah mengetahui konflik itu, bu Wati cepat-cepat merenggutnya dari kerumunan dan menggendongnya ke ruang guru untuk diIntrogasi.

Sesampainya di ruang guru, mula-mula bu Wati mengelus-elus rambutnya landai-landai, mencoba menenangkannya, lalu dibetulkannya tata letakku di wajah Lala dan digenggamnya kedua pundak Lala demi mendapat perhatian fokus dari Lala. “ kenapa Lala pukul Dimas??.. .. “. Diperhatikannya raut wajah Lala yang masih saja kaku tak bersalah persis batu pondasi. Kesadaran bahwa Lala telah melewati sesuatu yang salah membuat bu Wati tahu bahwa ada yang harus diperbaiki, bukan pada diri Lala, tapi pada apa yang telah mempengaruhi Lala. “ di film di TV orang baik pasti susah bu, pasti dihajar, ditinju, pokoknya disakiti terus, Lala pengen jadi orang jahat aja, dan orang jahat itu harus balas dendam bu.. . .. “. Jawabnya lugas dan logis.




02 Agustus 2009
Di rongga triplex


Contoh cerpen kehidupan Kacamata Lala sudah dituliskan analisisnya, dan bisa dibaca di link sebagai berikut(Menganalisis Cerpen Kacamata Lala)
 
Continue Reading... Label: , , , , , ,


Pengertian Tokoh Cerita dan Pembentukannya

0 komentar

Pengertian tokoh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada beberapa arti. Seperti dituliskan di web KBBI bahwa beberapa pengertian dari kata tokoh adalah rupa, perawakan, orang yang terkenal di masyarakat dan pemegang peran dalam roman atau drama.

Tokoh cerita dijelaskan lebih khusus oleh Abrams dalam Nurgiyantoro (2005:165), yang mengungkapkan bahwa tokoh cerita (karakter) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang diakukan dalam tindakan.

 Tapi pada perkembangannya, kini tokoh cerita juga bisa dibentuk dari hewan dan tumbuhan bahkan benda-benda mati.

karakter toko, pengertian tokoh, tokoh adalah, maksud tokoh, tokoh utama, pengertian tokoh dan penokohan watak tokoh, pengertian tokoh utama, cara pengarang menggambarkan watak tokoh, perbedaan tokoh dan penokohan, tokoh dalam drama, arti tokoh, jenis-jenis tokoh, tokoh cerita, pengertian tokoh protagonis, pengertian karakter tokoh, tokoh dalam cerita, pengertian tokoh cerita

Tokoh cerita bisa dipahami secara  sederhana sebagai pihak yang terlibat dalam cerita. Bisa saja kita menulis sebuah cerita tentang kejahatan, maka kita akan membentuk pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Pelaku dan korban kejahatan inilah yang menjadi tokoh cerita kita.

Sering kali kita membutuhkan tokoh tambahan seperti polisi, orang tua korban, saksi mata atau bahkan hewan sebagai  tokoh pendamping di dalam cerita yang kita  buat.

Karakter tokoh dalam cerita biasanya dibuat unik dan alami. Dibuat unik di sini bertujuan memberikan kesan yang berbeda bagi pembaca agar pembaca semakin penasaran dan tertarik, "Apa yang akan dialami  tokoh seunik ini?".

Karakter tokoh juga dibuat alami agar menyatu dengan kejadian dan alur cerita sehingga cerita tidak terasa ganjil atau janggal oleh pembaca. Cerita yang janggal dan tidak alami secara urutan akan mengganggu jalannya nalar pembaca. Tentu saja gangguan dalam urutan nalar pembaca ini membuat pembaca menjadi kehilangan urutan dan malas melanjutkan membacanya.

Tokoh dalam cerita hendaknya disesuaikan dengan tempat si tokoh tinggal, cara tokoh berpikir dan bahkan cara dia makan dan berbicara (bahasa/dialek daerah). Jangan sampai ada tokoh, orang dari Madura, tetapi berbicara menggunakan bahasa Lampung. Jika sampai hal semacam itu terjadi, nalar pembaca akan putus sehingga malas untuk meneruskan membaca. "Bagaimana bisa orang Madura bicaranya bahasa Lampung?" demikian batin pembaca. Banyak hal dari tokoh buatan kita yang secara detail harus diperhatikan karakter lahir maupun batin hingga watak otaknya agar berada di dalam cerita secara alami.

Pengertian tokoh telah kita pelajari bersama. Apa selanjutnya?

Penokohan dan pembentukan karakter tokoh akan kita pelajari pada artikel Penokohan dalam Menulis Cerpen atau Novel Kamu.


Sumber  : (1) http://kbbi.web.id/tokoh
                (2) http://www.academia.edu/4250510/Analis_Tokoh_dan_Penokohohan

Continue Reading... Label: , , , , ,


Kerangka Cerpen. Belajar Membangun Kerangka Karangan No.02

0 komentar

Kerangka cerpen kembali akan menjadi tema tulisan kita kali ini. Setelah kita kenal salah satu kerangka karangan dengan alur seperti di dalam artikel kerangka karangan no.01, kita akan beranjak ke kerangka karangan selanjutnya.

Kerangka karangan yang akan kita bahas kali ini adalah kerangka cerpen dimana para penulis pemula lebih PD untuk menulis cerpen daripada menulis novel. Maka kali ini kita belajar membangun kerangka unik dalam cerita yang pendek.

Cerpen yang akan kita kupas kerangkanya adalah Cerpen berjudul "HELKOIS, HELIKOS DAN RAMALAN KATAK HIJAU" (selanjutnya akan disebut sebagai cerpen HHRKH) yang bisa anda baca di (klik) sini. Cerpen itu saya tulis sebagai miniatur atau contoh kecil kerangka karangan Novel Api, Awan, Asap karya Bapak Korie Layun Rampan yang memiliki alur cerita sangat unik. Kalau mempelajarinya dari novel langsung mungkin penulis pemula seperti kita akan kesulitan dalam mencerna dan mengurai alur cerita. Maka kali ini kita coba urai alur semacam itu yang di tampung wadah sebuah cerpen.


 Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari di sini, diantaranya :

Karakter
Walau tidak sama persis, kali ini saya mencoba menghadirkan karakter tokoh yang unik dan berbeda. Sampai mati-matian memakai nama aneh Helikos dan Helkois segala, adalah upaya saya membentuk karakter tokoh yang unik. Tidak hanya nama, namun juga pekerjaan, isi pikiran, kalimat yang diucapkan, tingkah dan banyak hal yang bisa kita bubuhkan untuk menegaskan karakter tokoh. Kalau di Novel Api Awan Asap ada karakter Nori si isteri setia dan suaminya, Jue yang pantang menyerah meski seakan dia tidak akan bisa lagi hidup di atas Bumi.

Konflik Cerita
Di cerpen HHRKH kita temui beberapa konflik yang akhirnya mengarah pada satu titik yang mempertemukan dengan jelas berbagai konflik itu. Di dalam kehidupan nyata, kita biasa bete' dengan berbagai masalah yang kita hadapi, namun beberapa waktu kemudian kita menyadari bahwa masalah-masalah yang kita hadapi pada akhirnya akan memberikan hikmah. Inilah yang sering dikatakan orang sebagai Takdir Tuhan.

Kini takdir para karakter tokoh cerpen yang ada di cerpen kita ada ditangan kita. Kita yang akan mengatur mereka terlahir sebagai apa dan siapa, apa dan siapa yang hidup di sekitar mereka, sifat dan sikap mereka. Kita juga akan menentukan masalah-masalah apa yang akan mereka hadapi dan hikmah atau titik akhir yang bagaimana yang akan mereka alami. Semakin kreatif kita menciptakan masalah, dan semakin rapih kita mengaturnya akan membuat cerita kita semakin berkualitas.

Alur Cerita
Nah ini yang menjadikan Novel Api Awan Asap begitu berkesan di hati saya selain konflik-konflik yang terjadi di novel itu. Ada yang bilang begini "Alur Novel Api, Awan, Asap itu maju-mundur berkali-kali tapi dibawakan dengan sangat halus sehingga kita tidak merasa kejedok depan, lalu kita mundur, kejedok belakang kita maju, maju-mundurnya itu terasa mengalir terus ke depan". Di sini susahnya, ada banyak bab cerita yang ada di novel Api, Awan Asap, di setiap bab mengandung cerita sekarang dan cerita jaman lampau dengan berbagai konflik yang awalnya semakin membingungkan, tapi konflik-konflik semakin jelas titik temunya di saat cerita masa lalu dan masa sekarang bertemu. Memang sedikit rumit, kita butuh bantuan cerpen HHRKH lagi nih..

Alur cerpen KKRKH saya pisah per bagian dengan tanda "..." agar mempermudah pembaca menandai mana yang alur mundur (cerita masa lalu) dan alur maju (cerita sekarang). Cerita masa lalu milik Helkois dan cerita masa kini Helikos masing-masing memiliki konflik dan kejadian di waktunya masing-masing. Namun pada akhirnya tokoh dan alur cerita bertemu di satu masa yang juga menjadi titik temu dari berbagai konflik yang terjadi sebelumnya.

Walaupun tidak bisa sehalus Api, Awan, Asap, alur cerpen KKRHK mampu membantu saya menunjukkan poin-poin penting kerangka karangan novel tersebut.

Kerangka karangan dan beberapa poin cerita saya cukupkan sekian dulu dalam artikel ini. Semoga lain kali kita bisa memahami kerangka cerpen lebih jauh lagi.
Continue Reading... Label: , , , , , , , , ,


Contoh Cerpen Pendek. Helkois, Helikos dan Ramalan Katak Hijau

0 komentar





Contoh cerpen pendek kali ini memuat cerita yang tidak biasa bagi saya. Kali ini saya mencoba menulis dengan alur novel yang saya pelajari di Novel Api, Awan, Asap karya Bapak Korie Layun Rampan yang benar-benar wah dan mampu memberikan pengalaman pengaturan alur novel, ide cerita dan imajinasi kerangka cerita dalam menulis novel.


Plot maju mundur dengan pengaturan Pak Korie Layun Rampan terolah sangat rapih dan indah di novel beliau tersebut. Ide cerita yang diambil benar-benar unik dan diluar nalar dan imajinasi manusia rata-rata.

Melalui contoh cerpen berikut, mari kita pelajari sedikit yang bisa saya ambil dari novel Bapak Korie Layun Rampan berikut.

====================================================================
HELKOIS, HELIKOS DAN RAMALAN KATAK HIJAU

Dahulu kala di sebuah desa, hiduplah seekor katak hijau. Bukan saja ukurannya yang terlalu besar yang membuat katak itu dikeramatkan penduduk desa. Namun juga suara tak lazim yang keluar darinya dan seakan mengandung ramalan-ramalan tertentu yang membuat penduduk desa itu, bahkan penduduk di sembilan puluh desa lainnya mengeramatkan katak hijau itu.
Mula-mula Helkois yang menemukannya secara tidak sengaja. Waktu itu dia bermaksud buang air di sungai kecil yang membatasi rumpun rumah penduduk dan area sawah yang sangat luas ketika didengarnya suara aneh yang dikeluarkan katak hijau itu. Suaranya mengorok tidak jelas dan tidak seperti suara katak musim hujan. Walaupun rasa penasaran memenuhi dadanya, Helkois tidak berani mengambil dan membawanya pulang. Telah menjadi hukum adat desa bahwa benda apapun yang ditemukan warga di sekitar desa harus dimusyawarahkan sebelum diambil dari tempatnya ditemukan.
...
Helikos keluar dari ruang kerjanya dengan raut wajah kusut meski hari masih pagi.  Katak hijau besar bahan penelitian tim terpadu yang dia pimpin hilang dari kandangnya. Tidak hanya aktivitas penelitian yang akan terhambat, namun juga ancaman bahaya pada penduduk yang bisa ditimbulkan katak hijau itu. Katak hijau yang mereka teliti telah mencapai seukuran drum aspal dan bisa menelan manusia. Berbagai zat kimia yang terkandung dalam tubuh mahluk itu juga bisa meracuni air 120 hektar waduk yang akan membunuh tanaman, hewan lain dan manusia yang mengkonsumsinya. Jika semua itu terjadi, Helikos adalah tersangka utama pihak berwenang.
...
Serta merta setelah mendengar laporan Helkois dan mengecek langsung ke lokasi katak hijau, ketua lingkungan desa segera mengadakan musyawarah yang dihadiri tamu undangan dari kalangan penduduk dan beberapa tetua desa sebayanya serta perwakilan dan tetua 90 desa terdekat. Dugaan kepala lingkungan desa tentang suara katak hijau itu didukung penuh semua tetua dari 90 desa terdekat. Suara itu seperti suara kode kelompok telik sandi unggulan Istana Nyayalesu yang telah hancur ratusan tahun silam. Bahasa sandi ini harus diartikan untuk mengetahui apa yang ingin disampaikan katak hijau yang bisa jadi adalah utusan almarhum Sang Maharaja Resokie Nyayalesu.
...
“Bagaimana menemukan seekor katak hijau besar yang hilang entah ke arah mana?” ialah satu kalimat yang memenuhi otak Helikos hari itu. Bahkan anjing pelacak hanya bisa menemukan jejaknya hingga tepian sungai besar saja. Diduga dia masuk ke sungai, mengikuti arus dan memilih salah satu dari 27 cabang sungai yang ada mulai dari 100 meter setelah jejak terakhirnya terendus. Setelah 8 jam 30 helikopter dikerahkan menyusuri kanal juga belum memperlihatkan hasil. Mahluk itu pasti naik ke darat di suatu titik dan entah pergi ke arah mana. Masih mungkin ditemukan jika dikerahkan seribu orang dan mencarinya di bantaran-bantaran kanal, padang rumput luas atau bahkan hutan lebat yang mengelilingi laboratorium penelitian tempatnya bekerja, tapi pihak laboratorium tidak lagi memiliki dana untuk itu. Tidak hanya dipecat, mungkin dia akan dipenjara untuk kesalahan ini. Lantas siapa lagi yang akan membayar sejumlah biaya pengobatan ayahnya di rumah seperti yang selama ini ditanggungnya.
...
Helkois benar-benar tidak bisa mempercayai ramalan-ramalan dari mulut katak hijau besar yang subuh tadi dia temukan itu. Para tetua desa sepakat mengungkapkan bahwa katak itu berusaha menyampaikan kalimat “Zaman baru akan menghapus zaman lama. Semua hancur digantikan yang baru”. Cara berbicara para tetua yang begitu menggebu menimbulkan rasa tidak percaya di hatin Helkois. Zaman dirinya lahir, juga zaman kakek buyutnya lahir, berdasarkan cerita-cerita masa lalu, tidak ada yang berubah. Desa itu dan 90 desa terdekat tetap demikian adanya, tidak ada yang baru, tidak ada yang hancur.
...
Atas kelalaian itu, Helikos benar-benar dipecat. Ketua satuan petugas keamanan yang harusnya menjadi penaggung jawab utama justru dengan nyaman turut menanda tangani surat pemecatan. Bahkan dalam laboratorium kecil di tengah kawasan hutan itu ada politik egoisme yang sangat menjijikkan. Hal terbaik yang dia pikirkan hanyalah pulang dengan istri ke negaranya dan menengok ayahnya di rumah yang telah puluhan tahun dia tinggalkan. Apapun yang akan dilakukannya kemudian mungkin akan dia pertimbangkan di rumah bersama istri dan ayahnya nanti.
...
Helkois terbaring lemah di ranjang tidurnya yang reot dengan kasur bau apak tak karuan. Ada sepiring nasi, separuh ikan asin dan sejumput sambal serta sebotol mineral air isi ulang di samping bantalnya. Teringat wajah putranya yang tampan berjanji mengiriminya uang untuk perawatan kesehatan dirinya sebelum berangkat meninggalkan rumah untuk bekerja di luar negeri puluhan tahun silam. Kini tak ada sepeserpun yang dia terima. Isteri adiknya yang selalu mengantar makanan sederhana untuk hidupnya dengan sebaris kalimat yang begitu menyakitkan, “Mana kiriman anakmu itu gak nyampe-nyampe? Tidak pernah ada uang masuk ke rekening kami. Sekarang semua mahal!!”.

Dia mulai mengakui kebenaran isi ramalan katak hijau. Kini semua berubah, kini hamparan sawah berubah rupa menjadi gedung-gedung yang menjulang dan hamparan rumah mewah orang-orang baru. Desa, sawah, sungai kecil dan perilaku baik sesama penduduk desa telah hancur digantikan berbagai rupa baru. Kini dia diperbolehkan tinggal di gubuk yang bersandar pada tembok pagar salah satu bangunan tinggi oleh isteri adiknya. Rumahnya sendiri yang dulu begitu terasa nyaman kini entah telah rata menjadi jalan aspal, taman sebuah gedung tinggi atau mungkin kuburan mewah orang-orang baru itu.

Sedang melayang-layang pikirannya, Helkois mendengar sebuah suara di depan pintu. Tidak mungkin ada orang yang sudi mengetuk pintu dan bertamu di gubuknya. Mungkinkah itu puteranya? Helikos?
...
Butuh hampir satu bulan bagi Helikos mengurus surat-surat regulasi perjalannya bersama isteri kembali ke negara asal. Negara asalanya terlihat telah mengalami banyak sekali berubah. Jalan setapak di tengah hutan yang menjadi penghubung 91 desa dengan daerah lain kini menjadi jalan utama daerah penuh toko, kantor, bioskop, restoran dan berbagai bangunan megah. Desanya dan sepertinya 90 desa yang lain juga telah berubah rupa. Di desa-desa itu banyak sekali terbangun gedung menjulang dengan berbagai aktifitas penting berlalulalang. Sempat kebingungan juga mencari-cari tempat tinggal ayahnya karena segalanya telah berbeda. Namun akhirnya bisa dia temukan juga rumah ayahnya itu.

Tapi gubuk yang ditunjukkan orang itu samasekali tidak seperti rumah ayahnya yang ia kenal. Atau perubahan memang sampai sedemikian rupa? Dicobanya saja menuju gubuk itu.

Pintu gubuk terbuka lebar dan bau menyengat segera menerjang hidungnya di jarak 10 meter dari bangunan gubuk. Rasa-rasanya sangat tidak rasional ayahnya tinggal di dalam sana. Kecuali ada hal lain yang tidak diketahuinya.

Di dalam ruangan gubuk, bau semakin menyengat hingga mata Helikos merah berair. Ruangan itu tidak berpenghuni, hanya ada satu dipan bambu tua yang hampir roboh. Ada piring, nasi putih, sebotol air mineral dan sepotong kecil ikan asin berserakan di lantai tanah. Di atas dipan terdapat kasur kumal tak berupa dipenuhi kotoran manusia yang telah kering menghitam. Diperhatikannya lagi sekeliling ruangan sampai terasa ada yang mulai bergerak di bawah dipan.

Slap!! Ada benda yang sangat dia kenal tiba-tiba mengait kakinya. Ditariknya sekuat tenaga benda yang keluar dari bawah dipan itu. Ini bukan musuh baru baginya, katak hijau besar tertarik muncul dari bawah dipan. Diambilnya pestol dari saku, segera ditembakkannya dua peluru ke arah otak katak hijau.

Ada hal lain yang mungkin lebih buruk? Tentu. Helikos berniat membongkar perut katak hijau yang tentunya bisa dengan mudah dia lakukan. Benar dugaannya, wajah kurus dan tubuh koyak ayahnya muncul dari dalam perut katak hijau raksasa yang dibongkarnya. Helkois tidak yakin, tapi setidaknya ada lima atau tujuh nafas yang dihembuskan sebelum akhirnya ayahnya, Helkois, meninggal dunia di pelukannya.

Helkois sendiri sempat mempersiapkan senyum untuk kematiannya di sisa nafasnya. Bahagia rasanya putra yang puluhan tahun dirindukannya kini berhasil mengeluarkan dirinya dari perut katak hijau dalam keadaan hidup, walaupun mungkin hanya untuk beberapa saat saja. Ini Helikos anaknya, anak yang berjanji akan mengirim uang untuk perawatan kesehatan dirinya namun mengingkari janji itu. Anak yang puluhan tahun tidak terlihat dan kini kembali lengkap dengan katak hijau raksasa pembawa suara ramalan yang dulu malah dibawanya pergi juga ketika akan berangkat bekerja ke luar negeri.


====================================================================

Contoh cerpen ini tentu saja sangat jauh bila dibandingkan dengan alur novel Api, Awan, Asap milik Pak Korie Layun Rampan, namun setidaknya ada beberapa poitn yang bisa kita samakan. Point-point tersebut akan kita bahas di (klik) halaman ini.

Tentu saja contoh cerpen di atas juga banyak memiliki kekurangan. Penulis sangat mengharapkan partisipasi para pembaca untuk menuliskan komentar tentang kekurangan-kekurangan yang ada pada contoh cerpen pendek di atas.
Continue Reading... Label: , , , , , , ,


Tips Menulis Novel. Cara Menulis Buku ala Newbie

0 komentar

Tips menulis novel yang akan ditulis di sini tentu bukan tips-tips ajib ala master karena ditulis oleh penulis newbie yang samasekali belum menelurkan, menetaskan atau tepatnya menyelesaikan satupun novel-nya sendiri. Jadi sebenarnya saran-saran ini berlaku juga sepenuhnya untuk saya biar bisa lekas menyelesaikan novel.

Tips menulis novel berikut hanya pengalaman pribadi yang dirangkai dengan imajinasi penyelesaian yang belum diterapkan. Walaupun mungkin jauh dari valid, insyaallah bisa dipertimbangkan bersama. Toh kalau ada salah satu atau semua tips menulis novel berikut keliru, ada anda sekalian yang bersedia mengoreksi dan menulis komentar di kolom bawah (PD).

Berikut tips menulis novel dan mungkin bisa diterapkan sebagai cara menulis buku lain.

1. Referensi yang Banyak
Tips menulis buku yang pertama adalah referensi banyak novel, buku EYD dan berbagai artikel kepenulisan. Menurut saya 100 novel kecil (50 novel tebal) dan 1 buku EYD sudah dianggap cukup sebagai referensi novel pertama kita. Selain bisa memperkaya ide, banyak referensi novel lain berarti memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai macam permainan alur, berbagai macam teknik pembentukan karakter, berbagai macam penyuguhan konflik, berbagai macam diksi dan berbagai hasil dari teknik-teknik menulis secara langsung.

Biasakan menganalisa permasalahan lingkungan, sosial dan politik, termasuk analisa tulisan sebuah novel agar ide cerita dan metode penulisan kita semakin banyak. Apapun yang bisa menjadi referensi sebaiknya kita perhatikan dengan baik. Termasuk juga gosip selingkuh artis atau tetangga sendiri, daripada ikut menyebarkan info yang tidak bermanfaat itu lebih baik menjadikan kasus tersebut sebagai ide novel yang lebih bermanfaat.

2. Banyak Menulis Cerpen
Tips menulis novel berikutnya adalah banyak praktek menulis cerpen. Saya sendiri merasa menulis novel membutuhkan kemampuan, waktu, ide dan alur yang jauh lebih banyak daripada cerpen (Ya iya lah!!). Maka sebelum mencapai ke titik novel, sebaiknya kita banyak menulis cerpen untuk melatih kemampuan menulis dan melatih otak untuk terbuka pada keluasan ide baru. Tentu saja aturan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) juga bisa diasah ketika kita banyak-banyak menulis cerpen.

3. Menulis Kroyokan
Tips menulis novel yang ke-tiga adalah mengerjakan novel bersama dengan teman. Karena dengan mengerjakan sendiri bisa jadi kemampuan kita, daya tangkap ide kita dan waktu kita tidak mencukupi untuk menulis novel seorang diri. Sebagai penulis pemula hal ini bisa saja dilakukan bial ada koordinasi yang baik.

4. Menulis Kisah Sejarah
Tips menulis novel berikutnya adalah dengan menulis kisah sejarah. Kenapa kisah sejarah?, karena runtutan cerita, tokoh dan kejadian-kejadian dan materi-materi lain telah ada sehingga dapat membantu kita para penulis pemula dalam hal pencarian ide, pengaturan alur dan penciptaan kejadian. Hanya saja kita harus bisa memburu kisah sejarah berdasarkan data yang outentik. Jika memang mengantarkan sejarah, sebisa mungkin seluruh bagian novel sesuai dengan kisah masa lalu yang sebenarnya.

5. Dokumentasi Ide
Tips menulis novel terakhir di artikel ini adalah dokumentasi ide. Saya sendiri sering kali tiba-tiba mendapatkan ide, dan lupa beberapa menit kemudian. Jadi di sini kita sebaiknya menuliskan dahulu beberapa bagian inti novel kita. Misal akan terdiri dari 20 bagian. Setiap bagian memiliki satu sub judul novel. Kadang tiba-tiba kita mendapatkan ide untuk bagian 13, langsung saja di tulis di kolom bagian 13 agar beberapa waktu kedepan ide tersebut tidak hilang dan kemungkinan besar bisa diterapkan di novel kita.

Sekian artikel Tips Menulis Novel dari saya. Semoga bisa diterima walau seadanya. Semoga juga bisa digunakan sebagai referensi tips menulis buku lain. Bila ada yang kurang pas dengan artikel Tips Menulis Novel ini, silahkan tulis saran anda di kolom komentar di bawah ini.
Continue Reading... Label: , , , , , , ,


ARTIKEL MENARIK LAINNYA

 

Follower

Anda Pengunjung ke

Return to top of page Copyright © 2010 | Flash News Converted into Blogger Template by HackTutors