RSS

Penokohan dalam Menulis Cerpen atau Novel Kamu

0 komentar

Penokohan. Setelah kita tahu apa itu tokoh cerita dari artikel Pengertian Tokoh Cerita dan Pembentukannya, kini kita akan membahas bagaimana membentuk tokoh yang berkualitas dengan karakter-karakter luar biasa yang cocok dengan cerita kita.

Tokoh cerita yang berkualitas tentu tidak terlepas dari hal-hal lain di dalam cerita itu. Misalnya latar tempat dan waktu, ketika cerita kita bertempat di Mesir pada saat Fir'aun terakhir masih hidup, karakter seperti apa yang bisa berada di dalam kondisi seperti itu?

Kenapa susah sekali ya membuat karakter saja? Harus tahu sejarah Fir'aun segala. Mungkin hal itu yang lantas terpikirkan oleh kita. Begini penjelasannya, semakin berat ceritanya, itu membutuhkan karakter yang semakin berat juga. Bandingkan dengan kita menulis cerita pacar-pacaran dari pengalaman dan bahan yang bisa kita dapat di sekitar kita, ini cerita ringan, tokoh yang ada dalam cerita juga tergolong karakter ringan. Tapi tetap saja kita butuh pengetahuan tentang tema cerita ya.

Artinya berat cerita dan berat tokoh yang bisa kita hasilkan tergantung luasnya pengetahuan dan imajinasi kita. Maka kita akan berlatih dari awal, membuat wawasan semakin luas dan berlatih membuat cerita plus karakter yang semakin berat setiap waktunya.

karakter toko, pengertian tokoh, tokoh adalah, maksud tokoh, tokoh utama, pengertian tokoh dan penokohan watak tokoh, pengertian tokoh utama, cara pengarang menggambarkan watak tokoh, perbedaan tokoh dan penokohan, tokoh dalam drama, arti tokoh, jenis-jenis tokoh, tokoh cerita, pengertian tokoh protagonis, pengertian karakter tokoh, tokoh dalam cerita, pengertian tokoh cerita

Beberapa hal yang akan membantu kita untuk membangun tokoh cerita yang bagus top markotop bisa disimak, sebagai berikut :

1. Posisi tokoh dalam cerita
Kita akan menciptakan tokoh satu per-satu. Dari masing-masing tokoh kita cari dulu posisinya di dalam cerita, dia akan ada dimana saja dan melakukan apa saja. Tentunya ini dari khayalan kasar dulu, belum detail pada cerita.

Misalnya kita membuat tokoh :

- Tokoh utama
*Laila (Gadis desa, cantik, tidak berkerudung, lulusan sekolah terbaik, cerdas, kuat, baik, jadi mahasiswi ndeso di kota besar)

- Tokoh pendamping
Siapa ya? Dia bakal jadi kawan Laila nih. Dia bodoh tapi kadang-kadang bisa memberikan semangat untuk Laila. Saya mau namanya bukan nama yang biasa dipakai dalam cerita seperti Ina, maria atau yang lain. Tidak terlalu ndeso seperti Mariatun. Siapa ya?
Butuh bantuan lagi nih, dia anak Pak Haji yang kaya di Desa, jadi namanya keislam-islaman, tapi bukan Khumaira atau Azizah, kurang natural sepertinya. Siapa ya?
*Soliha (Putri Haji Harun, kawan Laila sedari balita, berkerudung, tidak cerdas, pejuang keras, semangatnya tidak pernah padam, ekonomi kecukupan)

- Tokoh Antagonis
Ini anak cowok dilengkapi gank-nya dia nanti. Gank-nya bukan cuma anak kampus, preman-preman terminal, pasar dan stasiun juga dia bayar. Cowok namanya ala kota, tidak namanya ada nilai patriotismenya/nasionalisme atau nilai-nilai luhur tertentu, dia kan anak pejabat, nama anak pejabat harus menggambarkan betapa berbudi pekertinya pejabat tersebut.
*Dharma (cakep, macho, kaya, anak pejabat, jadi kapten kampus, tapi selalu saja ada mata kuliah yang tidak lulus, takut kepada dosen, tapi dibelakang pura-pura berani, karakter yang bingung sendiri, playboy mesum)

Harusnya banyak karakter lagi yang kita ciptakan untuk cerita ini, seperti beberapa tokoh anggota gank dan preman si Dharma, mungkin ada karakter hakim dan polisi jika ada permasalahan yang berujung ke peradilan, 
termasuk juga karakter dosen-dosen tertentu dan karakter kampus.

Salah satu tujuan dalam tahap ini adalah hadirnya tokoh kedalam cerita secara alami.
2. Unik
Dengan sendirinya sebenarnya karakter-karakter kita akan menjadi unik jika kita bisa menjelaskan detail tentang tokoh-tokoh kita tersebut baik secara fisik maupun non fisik. Laila, Soliha, Dharma, anggota gank dan preman, hakim dan polisi serta dosen dan kampus masing-masing bisa ditambahkan sifat-sifat unik yang bisa membuat cerita jadi lebih berwarna.

Yang perlu diperhatikan juga adalah keunikan mereka jangan sampai membuat cerita keluar alur atau tokoh ini jadi tidak layak dipasangkan dengan posisinya dan pekerjaan-pekerjaan yang akan dia lakukan dalam cerita kita.

Misalnya Ada beberapa karakter sangat unik dalam cerita Harry Potter seperti Buckbeak yang bisa digambarkan sebagai burung berkaki empat. Iya unik, tapi cerita akan rusak kalau tokoh seperti Buckbeak muncul di cerita Liala. Lha nanti kita yang bingung sendiri ini cerita akan dilanjutkan dengan cara apa? Contoh di atas memang terlihat kejanggalan besar kalau karakter burung berkaki empat mauncul di cerita Lila, yang banyak terjadi justru kejanggalan-kejanggalan kecil perihal karakter yang ada di cerita membuat cerita kita juga kurang bisa dinikmati dengan baik. Hal ini perlu diperhatikan oleh kita sebagai penulis pemula.

3. Detail Tokoh
Detail tokoh yang bisa kita jelaskan di dalam cerita adalah tentang fisik, sifat-sifat unik yang bernilai positif maupun negatif, antagonis atau protagonis.

Watak halus, kasar, disiplin, berlebihan, centil, boros, sembrono dan lain-lain bisa kita sampaikan dengan baik bila kita benar-benar paham akan watak-watak tersebut. Hal ini tergantung pada kemampuan dan kemauan kita menghayati orang-orang yang kita tahu, bisa jadi para tetangga atau poblic figure yang sering muncul di TV.

*Bayangkan bagaimana Masashi Kishimoto mengarang karakter-karakter Akatsuki dan para tokoh film Naruto yang lain.

Penokohan tentu saja harus dilatih dengan baik. Kita bisa menulis puluhan cerpen untuk melatihnya. Mari terus bersemangat menulis cerpen.

Continue Reading... Label: , , , , ,


Menganalisis Cerpen KACAMATA LALA

0 komentar

Analisa cerpen memang bisa membuat kita memahami cara penulis menuliskan sebuah cerpen, unsur-unsur instrinsik yang ada di dalamnya bahkan unsur-unsur ekstrinsiknya juga. Tentu pemahaman dan wawasan baru itu bisa memberikan tambahan teknik menulis dan kemampuan menulis ketika kita menulis cerita setelahnya. Apalagi cerpen yang kita analisa adalah cerpen hasil karya cerpenis berpengalaman, pasti banyak teknik baru pengembangan karekter, pengaturan alur dan ide-ide cerita yang luar biasa. Hasil analisa kita akan menjadi tambahan pengetahuan penulisan yang sangat berarti.

Kali ini saya akan mencoba menganalisa cerpen tulisan saya sendiri. Yah, jarang-jarang ada orang menulis cerpen, dianalisa ulang dan dan dipublikasikan seperti ini, mungkin memang tidak terlihat keren. Yah, setidaknya yang saya bongkar-bongkar ini adalah cerpen saya sendiri sehingga ada rasa bebas untuk membongkarnya :D

Cerpen Kacamata Lala bisa anda baca di blog ini juga. Kita akan mulai mengupas unsur ekstrinsik cerpen tersebut.
analisis cerpen, cerpen analisis, contoh analisis cerpen, menganalisis cerpen, cerpen beserta analisisnya, contoh menganalisis cerpen, analisa cerpen, contoh cerpen beserta analisisnya, artikel analisis cerpen, cerpen analisa, unsur ekstrinsik, sinopsis cerpen, unsur ekstrinsik cerpen, unsur intrinsik ekstrinsik, unsur intrinsik ekstrinsik cerpen

Contoh cerpen kita kali ini sangat terlihat ditulis oleh orang yang tidak suka sinetron dan infotainment. Kemungkinan penulisnya berpikir bahwa sinetron dan infotainment bisa merusak moral masyarakat, mengarahkan masyarakat untuk berperilaku negatif dan memiliki banyak rekam negatif akibat sinetron dan infotainment.

Bisa jadi penulis adalah anak muda yang masih emosional, bisa jadi dia psikolog dari keluarga yang berkarakter keras atau seorang anak muda yang kebetulan tergabung ke dalam kemunitas anti sinetron dan anti infotainment sehingga terpengaruh dan memiliki kebencian yang berlebihan terhadap sinetron dan infotainment. Hal ini sangat terlihat dari adanya beberapa kalimat yang menyatakan begitu buruknya dampak sinetron dan infotainment bagi masyrakat. Juga beberapa kalimat yang menyatakan bahwa sinetron dan infotainment adalah hal sia-sia alias tidak bermanfaat.

Analisis cerpen di atas bisa dinyatakan benar karena nyatanya memang cerpen itu saya tulis beberapa bulan setelah lulus SMK dengan emosi yang belum terkendali. Unsur ektrinsik memang bisa berisi hal-hal unik tentang penulisnya, bisa juga berisi tantang sosial budaya waktu itu, dalam hal ini misalnya seberapa tinggi kualitas sinetron waktu itu, dan kondisi perilaku masyarakat waktu itu. Sekian untuk unsur ekstrinsiknya.

Contoh cerpen Kacamata Lala bisa dikatakan tidak memiliki unsur instrinsik yang menonjol, justru ada babarapa hal yang layak dikritik.
- Alur tidak begitu buruk, tetapi bisa dibilang kurang greget untuk menghantarkan emosi klimaks kepada pembaca.
- Penokohan, deskripsi karakter Ibu Lala kurang natural karena penulis masih belum bisa mengontrol emosi, sehingga seakan-akan semua kalimat ingin digunakan untuk menumpahkan kebencian kepada sinetron dan infotainment. Penulis pemula sering kali terpancing untuk memuntahkan emosi berlebihan ke dalam karyanya.
- Klimaks, lagi-lagi karena penulis belum bisa mengatur emosinya sehingga banyak bagian yang seharusnya tidak mengandung kemarahan jadi mengandung kemarahan. Hal ini jelas berpengaruh pada posisi klimaks yang seharusnya menjadi puncak emosi, tapi ternyata ada bagian cerita lain yang juga beremosi tinggi sehingga puncak klimaks kurang tertandai/terasa/terlihat oleh pembaca.
- Gaya bahasa, masih karena emosi penulis yang tidak terkontrol membuat gaya bahasa menjadi berisi emosi semua. Seharusnya tetap diatur dimana harus menyatakan emosi dan di bagian mana harus mendeskripsikan keadaan dengan kalem. Hal itu jelas sangat mempengaruhi gaya bahasa para penulis pemula seperti kita.

Analisis cerpen unsur instrinsik di atas tentu juga menjadi pelajaran perbaikan diri saya sendiri.

Sampai jumpa di kesempatan berikutnya.
Continue Reading... Label: , , , , , , , ,


Contoh Cerpen Kehidupan. KACAMATA LALA

0 komentar

Dua lenganku selalu mengait kedua telinganya. Tercantol begitu di wajahnya yang imut. Lala mulai memakaiku setelah vonis dokter bahwa matanya minus. Aku menemaninya setiap waktu. Aku bertugas membantu penglihatannya, tugas yang membuat aku tahu setiap apa yang diketahuinya. Aku juga harus melindungi matanya. Pernah suatu ketika beberapa anak laki-laki kelasnya, teman-temannya yang tergabung dalam gank brandal cilik, menyemburkan pasir ke wajah lala. Membuat wajahnya kotor penuh tanah debu, kecuali bagian mata. Tapi dia tidak menangis, aku tak melihat air setetespun di matanya. Walau ceria dan centil, dia adalah gadis cilik yang kuat dan tangguh. Selain bisa melihat apa yang dia lihat, aku juga bisa menoleh ke belakang untuk melihat matanya. Ketika dia melihat seragam barunya dengan mata gembira, ketika dia melihat teman-teman barunya dengan sorot mata keakraban, ketika dia melihat kilat petir dengan mata terkejut, dan yang paling sering adalah ketika akhir-akhir ini matanya selalu tersayat-sayat penuh emosi dari adegan-adegan yang bahkan samasekali tak dipahaminya, Sinetron.

Dulunya dia tidak begitu. Dulu dia tak suka sinetron. Dia adalah anak normal, seperti juga teman-temannya, seperti juga anak-anak TK dimana-mana, suka bermain boneka, bongkar pasang dan masak-masakan. Dulu dia juga adalah anak kecil yang setiap sore membawa kardus penuh mainan keluar ke teras rumah, mencetak tanah basah menjadi bentuk-bentuk kue-kue, atau juga mengejar kupu-kupu atau capung. Selalu aktif dan ceria. Bahkan beberapa kali menjuarai lomba baca puisi tingkat TK se-kecamatan. Semua tetangga dan gurunya turut membanggakannya. Namun yang seharusnya adalah orang yang paling bangga malah meghancurkan semuanya, kekreativitasan Lala, masa kecil dan masa depan Lala, harus hancur atas ulah ibunya sendiri. Wanita tengik dengan mata yang berkilat-kilat ketika mendengar gosip baru artis atau ketika dapat bocoran kejelekan salahsatu tetangganya.

cerpen pengalaman pribadi, contoh cerpen pengalaman pribadi, cerpen pengalaman, contoh cerpen pengalaman, kumpulan cerpen pengalaman pribadi, cerpen pribadi, cerpen pengalaman sendiri, contoh cerpen pribadi, contoh cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, kumpulan cerpen pengalaman, contoh cerpen pengalaman sendiri, kumpulan cerpen pribadi, menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, cerpen dari pengalaman pribadi, kumpulan cerpen pengalaman sendiri, contoh cerpen dari pengalaman pribadi, cerpen kehidupan, contoh pengalaman pribadi, cerita pengalaman pribadi, contoh-contoh cerpen, cerpen kehidupan sehari-hari, cerpen pengalaman hidup, contoh cerita pengalaman pribadi, contoh cerita pengalaman, contoh cerpen bahasa indonesia, kumpulan cerpen kehidupan, cerpen pengalaman diri sendiri




Ibu Lala-lah yang dulu terlihat kelewat serius memelototi kemelut di-TV yang tak pernah reda. Tak ketinggalan pula acara gosip-menggosip dari semua chenel TV. Selalu saja ada sesuatu yang baru, tak pernah habis konflik demi konflik mendera mata dan otak. Dan dari semua itu, tak boleh ada yang tertinggal bagi Ibu Lala. Ibu Lala tak akan beranjak mencuci baju sebelum semua gosip ditelannya habis. Otak dan telinganya tumpul tak berfungsi ketika adegan paling seru-semrawut atau gosip terpanas mak-nyos ditampilkan di TV. Tak akan ada tamu yang dibukakan pintu walau telah mengetuk pintu selama dua jam sekalipun, tak akan ada panci air yang akan diangkat dari kompor walau sudah kering-gosong juga. Dipersembahkannya hidup demi melihat sinetron dan mendengar gosip. Dunianya berhenti di titik itu. Dan semua tingkah polah ibunya ini, terekam baik di mata Lala.
Ketika Lala minta diambilkan makan sepulang dari sekolah, tak akan diterimanya sebutir nasi-pun sebelum acara gosip siang berakhir. Ketika dia ingin melihat spongebob, sampai menangis seperti apapun, tak akan chenel berpindah hingga adegan terakhir sinetron petang episode hari itu usai. Pernah juga anak dan ibu itu bertengkar seru memperebutkan remot TV. Ku tengok ke belakang, terlihat mata lala yang mengalirkan air kebencian begitu derasnya. Kupandang ke depan, terlihat ibunya mendelik merah, berkacak pinggang dengan remot tetap nyaman terlindungi dan tak pernah lepas dari genggaman eratnya. Mulut ibu lala juga mangap-mangap saat itu. Pasti-lah nama setiap hewan yang ada di kebun binatang Surabaya disebutnya satu-persatu untuk menghinakan Lala. Peperangan yang sungguh tidak sepadan. Bukan hanya tentang lawan yang tak sebanding tetapi juga karena penyebab yang begitu tidak pantas.

Keadaan seperti ini terus saja terjadi. Setiap waktu aku harus menyaksikan pertengkaran anak-beranak yang tak pernah terselesaikan. Tangisan dan cacian menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Setiap hari terdengar dari ruang tengah, ruangan yang berisi seperangkat sofa-meja, rak dan TV 29”, lengkap dengan VCD dan Sound system. Hingga akhirnya, makan siang yang telat dan chenel yang tak pernah terganti membuat Lala putus asa. Dia menyerah dan mulai ikut saja menonton sinetron dan gosip. Terus saja dia menahan lapar siang dan kerinduan akan tawa spongebob. Dia tahu bahwa dia kalah. Dia juga tahu bahwa keadaan tak akan pernah berubah. Maka dia turut mengalir saja mengikuti hulu-hilir sungai adegan-adegan yang tak pernah rampung. Turut tertipu masalah-masalah remeh yang malah menambah konflik di otak. Seperti pecinta-pecinta sinetron lain yang merasa belum cukup dengan kemelut hidupnya sendiri dan sehingga menambahi dengan kemelut-kemelut lain yang pastinya mbulet khas sinetron. Masih belum cukup kesulitan hidup mereka, pasti batin mereka masih cukup luas untuk menampung dan menanggung beban kehidupan tokoh-tokoh tipuan itu. Waktu-waktu mereka pun pasti telah kelewat banyak digunakan untuk hal-hal berguna, pasti sudah sangat banyak yang digunakan untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak dari trafficking, pasti juga sudah terlalu banyak digunakan untuk menorehkan tanda-tanda jasa sehingga telah waktunya waktu-waktu itu harus mereka gunakan untuk hal yang tidak berguna.

Selintas Lala melihat kalender. Mungkin menghitung hari ulang tahunnya yang masih dua bulan lagi. Aku tidak, aku malah menghitung bahwa hari itu adalah hari ke-tujupuluh empat setelah Lala menyerahkan matanya untuk gosip dan sinetron. Saat itu Lala telah terbiasa ikhlas nimbrung dengan ibunya terayun-ayun kerumitan yang dibuat-buat. Keduanya selalu murung-merenung menghayati cerita. Tak ada humor, tak ada tawa. Tak ada spongebob, tak ada ceria. Yang ada hanya ketegangan, emosi, amarah, dendam, kebencian, kekerasan dan gumpalan-gumpalan kotor lain yang selalu menyesaki dada. Kegeraman yang membara tak jarang terlihat pada dengusan mereka berdua. Tidak lagi karena terpaksa, kini Lala mulai menyukai semuanya. Apalagi kini sinetron dan infotainment lebih berariasi dengan karakter masing-masing. Tapi, padahal sama saja, intinya ruwet dibikin-bikin dan membongkar aib. Masa kanak-kanak Lala telah hilang dari sinar matanya. Telat makan siang tak pernah lagi jadi masalah. Perutnya tak pernah lapar di kala sinetron siang mulai disuguhkan. Hanya mata-lah yang selalu lapar akan keruwetan masalah orang dewasa. Sinetron dan infotainment yang setiap jam seperti selalu ada, bergantian, susul-menyusul-lah yang memenuhi waktu-waktu mereka berdua. Dan yang membuat bu Wati, guru TK dimana Lala sekolah, kawatir adalah PR Lala yang tak pernah dikerjakan satupun, garis paras Lala yang semakin hari semakin kaku, kukuh dan tegang. Selain itu, ternyata minat bermain Lala juga terkuras habis. Boneka dan capung tak pernah lagi tersentuh. Tak ada teman akrab yang berbagi bekal, tak ada lompat tali, dan tak ada puisi lagi yang keluar dari bibirnya. Kehidupan kanak-kanaknya telah hancur mendebu.

Tiap hari Lala diam di kelas. Meletakkan pipi di meja dan mulai mengenang adegan-adegan terdahsyat yang dia ingat. Ketika tokoh utama, seorang gadis yang cantik dan baik hati, dianiaya majikan wanitanya yang jahat, kriting dengan wajah yang tak pernah enak dipandangan mata, persis ibunya sendiri. Ketika seorang suami menampar istrinya yang baik. Ketika seorang anak laki-laki yang tampan ditinju bapak tirinya. Ketika harta warisan diperebutkan lima bersaudara yang antagonis semuanya. ketika seorang istri selingkuh dan menimbulkan prahara. Ketika seorang wanita diperebutkan dua pria dan sebaliknya. Ketika anak-anak putih abu-abu saling berebut pacar. Cinta si kaya dan si miskin yang terhalangi. Semuanya begitu sistematis terangkum dalam lembar-lembar hikayat otak Lala. Sambil berdiam diri di bangku, dikeluarkannya-lah lembar demi lembar itu. Diterawangnya jelas-jelas, seperti kacaku adalah layar TV saja. Layar kaca pribadi. Bahkan teman sebangku tak akan bisa melihat adegan-adegan yang dilihat Lala di kacaku. Semua akan terlihat begitu nyata bagi Lala, mengalir, hingga dia tertidur.

Yang seperti itu terjadi terus, semakin hari semakin mengakar parah. Hingga suatu hari, tiba-tiba Lala menghajar Dimas, salah satu teman sekelasnya yang termasuk dalam gerombolan gank berandal cilik, tanpa sebab. Bukan karena dia ditaburi pasir lagi atau dijambak rambutnya sehingga marah, ini benar-benar tanpa sebab yang bagaimanapun. Tak urung membuat ibu-ibu wali murid dan siswa-siswa lainnya mengerubungnya. Sebagian dari penonton-penonton itu adalah tetangga Lala yang juga mulai heran dengan perubahan Lala yang akhir-akhir itu tak lagi ceria, tak pernah lagi meminta buah jambu atau sekedar numpang bermain dirumah mereka. Segera setelah mengetahui konflik itu, bu Wati cepat-cepat merenggutnya dari kerumunan dan menggendongnya ke ruang guru untuk diIntrogasi.

Sesampainya di ruang guru, mula-mula bu Wati mengelus-elus rambutnya landai-landai, mencoba menenangkannya, lalu dibetulkannya tata letakku di wajah Lala dan digenggamnya kedua pundak Lala demi mendapat perhatian fokus dari Lala. “ kenapa Lala pukul Dimas??.. .. “. Diperhatikannya raut wajah Lala yang masih saja kaku tak bersalah persis batu pondasi. Kesadaran bahwa Lala telah melewati sesuatu yang salah membuat bu Wati tahu bahwa ada yang harus diperbaiki, bukan pada diri Lala, tapi pada apa yang telah mempengaruhi Lala. “ di film di TV orang baik pasti susah bu, pasti dihajar, ditinju, pokoknya disakiti terus, Lala pengen jadi orang jahat aja, dan orang jahat itu harus balas dendam bu.. . .. “. Jawabnya lugas dan logis.




02 Agustus 2009
Di rongga triplex


Contoh cerpen kehidupan Kacamata Lala sudah dituliskan analisisnya, dan bisa dibaca di link sebagai berikut(Menganalisis Cerpen Kacamata Lala)
 
Continue Reading... Label: , , , , , ,


Pengertian Tokoh Cerita dan Pembentukannya

0 komentar

Pengertian tokoh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada beberapa arti. Seperti dituliskan di web KBBI bahwa beberapa pengertian dari kata tokoh adalah rupa, perawakan, orang yang terkenal di masyarakat dan pemegang peran dalam roman atau drama.

Tokoh cerita dijelaskan lebih khusus oleh Abrams dalam Nurgiyantoro (2005:165), yang mengungkapkan bahwa tokoh cerita (karakter) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang diakukan dalam tindakan.

 Tapi pada perkembangannya, kini tokoh cerita juga bisa dibentuk dari hewan dan tumbuhan bahkan benda-benda mati.

karakter toko, pengertian tokoh, tokoh adalah, maksud tokoh, tokoh utama, pengertian tokoh dan penokohan watak tokoh, pengertian tokoh utama, cara pengarang menggambarkan watak tokoh, perbedaan tokoh dan penokohan, tokoh dalam drama, arti tokoh, jenis-jenis tokoh, tokoh cerita, pengertian tokoh protagonis, pengertian karakter tokoh, tokoh dalam cerita, pengertian tokoh cerita

Tokoh cerita bisa dipahami secara  sederhana sebagai pihak yang terlibat dalam cerita. Bisa saja kita menulis sebuah cerita tentang kejahatan, maka kita akan membentuk pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Pelaku dan korban kejahatan inilah yang menjadi tokoh cerita kita.

Sering kali kita membutuhkan tokoh tambahan seperti polisi, orang tua korban, saksi mata atau bahkan hewan sebagai  tokoh pendamping di dalam cerita yang kita  buat.

Karakter tokoh dalam cerita biasanya dibuat unik dan alami. Dibuat unik di sini bertujuan memberikan kesan yang berbeda bagi pembaca agar pembaca semakin penasaran dan tertarik, "Apa yang akan dialami  tokoh seunik ini?".

Karakter tokoh juga dibuat alami agar menyatu dengan kejadian dan alur cerita sehingga cerita tidak terasa ganjil atau janggal oleh pembaca. Cerita yang janggal dan tidak alami secara urutan akan mengganggu jalannya nalar pembaca. Tentu saja gangguan dalam urutan nalar pembaca ini membuat pembaca menjadi kehilangan urutan dan malas melanjutkan membacanya.

Tokoh dalam cerita hendaknya disesuaikan dengan tempat si tokoh tinggal, cara tokoh berpikir dan bahkan cara dia makan dan berbicara (bahasa/dialek daerah). Jangan sampai ada tokoh, orang dari Madura, tetapi berbicara menggunakan bahasa Lampung. Jika sampai hal semacam itu terjadi, nalar pembaca akan putus sehingga malas untuk meneruskan membaca. "Bagaimana bisa orang Madura bicaranya bahasa Lampung?" demikian batin pembaca. Banyak hal dari tokoh buatan kita yang secara detail harus diperhatikan karakter lahir maupun batin hingga watak otaknya agar berada di dalam cerita secara alami.

Pengertian tokoh telah kita pelajari bersama. Apa selanjutnya?

Penokohan dan pembentukan karakter tokoh akan kita pelajari pada artikel Penokohan dalam Menulis Cerpen atau Novel Kamu.


Sumber  : (1) http://kbbi.web.id/tokoh
                (2) http://www.academia.edu/4250510/Analis_Tokoh_dan_Penokohohan

Continue Reading... Label: , , , , ,


Kerangka Cerpen. Belajar Membangun Kerangka Karangan No.02

0 komentar

Kerangka cerpen kembali akan menjadi tema tulisan kita kali ini. Setelah kita kenal salah satu kerangka karangan dengan alur seperti di dalam artikel kerangka karangan no.01, kita akan beranjak ke kerangka karangan selanjutnya.

Kerangka karangan yang akan kita bahas kali ini adalah kerangka cerpen dimana para penulis pemula lebih PD untuk menulis cerpen daripada menulis novel. Maka kali ini kita belajar membangun kerangka unik dalam cerita yang pendek.

Cerpen yang akan kita kupas kerangkanya adalah Cerpen berjudul "HELKOIS, HELIKOS DAN RAMALAN KATAK HIJAU" (selanjutnya akan disebut sebagai cerpen HHRKH) yang bisa anda baca di (klik) sini. Cerpen itu saya tulis sebagai miniatur atau contoh kecil kerangka karangan Novel Api, Awan, Asap karya Bapak Korie Layun Rampan yang memiliki alur cerita sangat unik. Kalau mempelajarinya dari novel langsung mungkin penulis pemula seperti kita akan kesulitan dalam mencerna dan mengurai alur cerita. Maka kali ini kita coba urai alur semacam itu yang di tampung wadah sebuah cerpen.


 Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari di sini, diantaranya :

Karakter
Walau tidak sama persis, kali ini saya mencoba menghadirkan karakter tokoh yang unik dan berbeda. Sampai mati-matian memakai nama aneh Helikos dan Helkois segala, adalah upaya saya membentuk karakter tokoh yang unik. Tidak hanya nama, namun juga pekerjaan, isi pikiran, kalimat yang diucapkan, tingkah dan banyak hal yang bisa kita bubuhkan untuk menegaskan karakter tokoh. Kalau di Novel Api Awan Asap ada karakter Nori si isteri setia dan suaminya, Jue yang pantang menyerah meski seakan dia tidak akan bisa lagi hidup di atas Bumi.

Konflik Cerita
Di cerpen HHRKH kita temui beberapa konflik yang akhirnya mengarah pada satu titik yang mempertemukan dengan jelas berbagai konflik itu. Di dalam kehidupan nyata, kita biasa bete' dengan berbagai masalah yang kita hadapi, namun beberapa waktu kemudian kita menyadari bahwa masalah-masalah yang kita hadapi pada akhirnya akan memberikan hikmah. Inilah yang sering dikatakan orang sebagai Takdir Tuhan.

Kini takdir para karakter tokoh cerpen yang ada di cerpen kita ada ditangan kita. Kita yang akan mengatur mereka terlahir sebagai apa dan siapa, apa dan siapa yang hidup di sekitar mereka, sifat dan sikap mereka. Kita juga akan menentukan masalah-masalah apa yang akan mereka hadapi dan hikmah atau titik akhir yang bagaimana yang akan mereka alami. Semakin kreatif kita menciptakan masalah, dan semakin rapih kita mengaturnya akan membuat cerita kita semakin berkualitas.

Alur Cerita
Nah ini yang menjadikan Novel Api Awan Asap begitu berkesan di hati saya selain konflik-konflik yang terjadi di novel itu. Ada yang bilang begini "Alur Novel Api, Awan, Asap itu maju-mundur berkali-kali tapi dibawakan dengan sangat halus sehingga kita tidak merasa kejedok depan, lalu kita mundur, kejedok belakang kita maju, maju-mundurnya itu terasa mengalir terus ke depan". Di sini susahnya, ada banyak bab cerita yang ada di novel Api, Awan Asap, di setiap bab mengandung cerita sekarang dan cerita jaman lampau dengan berbagai konflik yang awalnya semakin membingungkan, tapi konflik-konflik semakin jelas titik temunya di saat cerita masa lalu dan masa sekarang bertemu. Memang sedikit rumit, kita butuh bantuan cerpen HHRKH lagi nih..

Alur cerpen KKRKH saya pisah per bagian dengan tanda "..." agar mempermudah pembaca menandai mana yang alur mundur (cerita masa lalu) dan alur maju (cerita sekarang). Cerita masa lalu milik Helkois dan cerita masa kini Helikos masing-masing memiliki konflik dan kejadian di waktunya masing-masing. Namun pada akhirnya tokoh dan alur cerita bertemu di satu masa yang juga menjadi titik temu dari berbagai konflik yang terjadi sebelumnya.

Walaupun tidak bisa sehalus Api, Awan, Asap, alur cerpen KKRHK mampu membantu saya menunjukkan poin-poin penting kerangka karangan novel tersebut.

Kerangka karangan dan beberapa poin cerita saya cukupkan sekian dulu dalam artikel ini. Semoga lain kali kita bisa memahami kerangka cerpen lebih jauh lagi.
Continue Reading... Label: , , , , , , , , ,


Baca juga yang ini

 

Follower

Anda Pengunjung ke

qb Group

Return to top of page Copyright © 2010 | Flash News Converted into Blogger Template by HackTutors