RSS

Pengertian Tokoh Cerita dan Pembentukannya

0 komentar

Pengertian tokoh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada beberapa arti. Seperti dituliskan di web KBBI bahwa beberapa pengertian dari kata tokoh adalah rupa, perawakan, orang yang terkenal di masyarakat dan pemegang peran dalam roman atau drama.

Tokoh cerita dijelaskan lebih khusus oleh Abrams dalam Nurgiyantoro (2005:165), yang mengungkapkan bahwa tokoh cerita (karakter) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang diakukan dalam tindakan.

 Tapi pada perkembangannya, kini tokoh cerita juga bisa dibentuk dari hewan dan tumbuhan bahkan benda-benda mati.

karakter toko, pengertian tokoh, tokoh adalah, maksud tokoh, tokoh utama, pengertian tokoh dan penokohan watak tokoh, pengertian tokoh utama, cara pengarang menggambarkan watak tokoh, perbedaan tokoh dan penokohan, tokoh dalam drama, arti tokoh, jenis-jenis tokoh, tokoh cerita, pengertian tokoh protagonis, pengertian karakter tokoh, tokoh dalam cerita, pengertian tokoh cerita

Tokoh cerita bisa dipahami secara sederhana sebagai pihak yang terlibat dalam cerita. Bisa saja kita menulis sebuah cerita tentang kejahatan, maka kita akan membentuk pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Pelaku dan korban kejahatan inilah yang menjadi tokoh cerita kita.

Sering kali kita membutuhkan tokoh tambahan seperti polisi, orang tua korban, saksi mata atau bahkan hewan sebagai tokoh pendamping di dalam ceritayang kita buat.

Karakter tokoh dalam cerita biasanya dibuat unik dan alami. Dibuat unik di sini bertujuan memberikan kesan yang berbeda bagi pembaca agar pembaca semakin penasaran dan tertarik, "Apa yang akan dialami tokoh seunik ini?".

Karakter tokoh juga dibuat alami agar menyatu dengan kejadian dan alur cerita sehingga cerita tidak terasa ganjil atau janggal oleh pembaca. Cerita yang janggal dan tidak alami secara urutan akan mengganggu jalannya nalar pembaca. Tentu saja gangguan dalam urutan nalar pembaca ini membuat pembaca menjadi kehilangan urutan dan malas melanjutkan membacanya.

Tokoh dalam cerita hendaknya disesuaikan dengan tempat si tokoh tinggal, cara tokoh berpikir dan bahkan cara dia makan dan berbicara (bahasa/dialek daerah). Jangan sampai ada tokoh, orang dari Madura, tetapi berbicara menggunakan bahasa Lampung. Jika sampai hal semacam itu terjadi, nalar pembaca akan putus sehingga malas untuk meneruskan membaca. "Bagaimana bisa orang Madura bicaranya bahasa Lampung?" demikian batin pembaca. Banyak hal dari tokoh buatan kita yang secara detail harus diperhatikan karakter lahir maupun batin hingga watak otaknya agar berada di dalam cerita secara alami.

Pengertian tokoh telah kita pelajari bersama. Apa selanjutnya?

Penokohan dan pembentukan karakter tokoh akan kita pelajari di artikel-ertikel berikutnya.


Sumber  : (1) http://kbbi.web.id/tokoh
                (2) http://www.academia.edu/4250510/Analis_Tokoh_dan_Penokohohan

Continue Reading... Label: , , , , ,


Kerangka Cerpen. Belajar Membangun Kerangka Karangan No.02

0 komentar

Kerangka cerpen kembali akan menjadi tema tulisan kita kali ini. Setelah kita kenal salah satu kerangka karangan dengan alur seperti di dalam artikel kerangka karangan no.01, kita akan beranjak ke kerangka karangan selanjutnya.

Kerangka karangan yang akan kita bahas kali ini adalah kerangka cerpen dimana para penulis pemula lebih PD untuk menulis cerpen daripada menulis novel. Maka kali ini kita belajar membangun kerangka unik dalam cerita yang pendek.

Cerpen yang akan kita kupas kerangkanya adalah Cerpen berjudul "HELKOIS, HELIKOS DAN RAMALAN KATAK HIJAU" (selanjutnya akan disebut sebagai cerpen HHRKH) yang bisa anda baca di (klik) sini. Cerpen itu saya tulis sebagai miniatur atau contoh kecil kerangka karangan Novel Api, Awan, Asap karya Bapak Korie Layun Rampan yang memiliki alur cerita sangat unik. Kalau mempelajarinya dari novel langsung mungkin penulis pemula seperti kita akan kesulitan dalam mencerna dan mengurai alur cerita. Maka kali ini kita coba urai alur semacam itu yang di tampung wadah sebuah cerpen.


 Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari di sini, diantaranya :

Karakter
Walau tidak sama persis, kali ini saya mencoba menghadirkan karakter tokoh yang unik dan berbeda. Sampai mati-matian memakai nama aneh Helikos dan Helkois segala, adalah upaya saya membentuk karakter tokoh yang unik. Tidak hanya nama, namun juga pekerjaan, isi pikiran, kalimat yang diucapkan, tingkah dan banyak hal yang bisa kita bubuhkan untuk menegaskan karakter tokoh. Kalau di Novel Api Awan Asap ada karakter Nori si isteri setia dan suaminya, Jue yang pantang menyerah meski seakan dia tidak akan bisa lagi hidup di atas Bumi.

Konflik Cerita
Di cerpen HHRKH kita temui beberapa konflik yang akhirnya mengarah pada satu titik yang mempertemukan dengan jelas berbagai konflik itu. Di dalam kehidupan nyata, kita biasa bete' dengan berbagai masalah yang kita hadapi, namun beberapa waktu kemudian kita menyadari bahwa masalah-masalah yang kita hadapi pada akhirnya akan memberikan hikmah. Inilah yang sering dikatakan orang sebagai Takdir Tuhan.

Kini takdir para karakter tokoh cerpen yang ada di cerpen kita ada ditangan kita. Kita yang akan mengatur mereka terlahir sebagai apa dan siapa, apa dan siapa yang hidup di sekitar mereka, sifat dan sikap mereka. Kita juga akan menentukan masalah-masalah apa yang akan mereka hadapi dan hikmah atau titik akhir yang bagaimana yang akan mereka alami. Semakin kreatif kita menciptakan masalah, dan semakin rapih kita mengaturnya akan membuat cerita kita semakin berkualitas.

Alur Cerita
Nah ini yang menjadikan Novel Api Awan Asap begitu berkesan di hati saya selain konflik-konflik yang terjadi di novel itu. Ada yang bilang begini "Alur Novel Api, Awan, Asap itu maju-mundur berkali-kali tapi dibawakan dengan sangat halus sehingga kita tidak merasa kejedok depan, lalu kita mundur, kejedok belakang kita maju, maju-mundurnya itu terasa mengalir terus ke depan". Di sini susahnya, ada banyak bab cerita yang ada di novel Api, Awan Asap, di setiap bab mengandung cerita sekarang dan cerita jaman lampau dengan berbagai konflik yang awalnya semakin membingungkan, tapi konflik-konflik semakin jelas titik temunya di saat cerita masa lalu dan masa sekarang bertemu. Memang sedikit rumit, kita butuh bantuan cerpen HHRKH lagi nih..

Alur cerpen KKRKH saya pisah per bagian dengan tanda "..." agar mempermudah pembaca menandai mana yang alur mundur (cerita masa lalu) dan alur maju (cerita sekarang). Cerita masa lalu milik Helkois dan cerita masa kini Helikos masing-masing memiliki konflik dan kejadian di waktunya masing-masing. Namun pada akhirnya tokoh dan alur cerita bertemu di satu masa yang juga menjadi titik temu dari berbagai konflik yang terjadi sebelumnya.

Walaupun tidak bisa sehalus Api, Awan, Asap, alur cerpen KKRHK mampu membantu saya menunjukkan poin-poin penting kerangka karangan novel tersebut.

Kerangka karangan dan beberapa poin cerita saya cukupkan sekian dulu dalam artikel ini. Semoga lain kali kita bisa memahami kerangka cerpen lebih jauh lagi.
Continue Reading... Label: , , , , , , , , ,


Contoh Cerpen Pendek. Helkois, Helikos dan Ramalan Katak Hijau

0 komentar





Contoh cerpen pendek kali ini memuat cerita yang tidak biasa bagi saya. Kali ini saya mencoba menulis dengan alur novel yang saya pelajari di Novel Api, Awan, Asap karya Bapak Korie Layun Rampan yang benar-benar wah dan mampu memberikan pengalaman pengaturan alur novel, ide cerita dan imajinasi kerangka cerita dalam menulis novel.


Plot maju mundur dengan pengaturan Pak Korie Layun Rampan terolah sangat rapih dan indah di novel beliau tersebut. Ide cerita yang diambil benar-benar unik dan diluar nalar dan imajinasi manusia rata-rata.

Melalui contoh cerpen berikut, mari kita pelajari sedikit yang bisa saya ambil dari novel Bapak Korie Layun Rampan berikut.

====================================================================
HELKOIS, HELIKOS DAN RAMALAN KATAK HIJAU

Dahulu kala di sebuah desa, hiduplah seekor katak hijau. Bukan saja ukurannya yang terlalu besar yang membuat katak itu dikeramatkan penduduk desa. Namun juga suara tak lazim yang keluar darinya dan seakan mengandung ramalan-ramalan tertentu yang membuat penduduk desa itu, bahkan penduduk di sembilan puluh desa lainnya mengeramatkan katak hijau itu.
Mula-mula Helkois yang menemukannya secara tidak sengaja. Waktu itu dia bermaksud buang air di sungai kecil yang membatasi rumpun rumah penduduk dan area sawah yang sangat luas ketika didengarnya suara aneh yang dikeluarkan katak hijau itu. Suaranya mengorok tidak jelas dan tidak seperti suara katak musim hujan. Walaupun rasa penasaran memenuhi dadanya, Helkois tidak berani mengambil dan membawanya pulang. Telah menjadi hukum adat desa bahwa benda apapun yang ditemukan warga di sekitar desa harus dimusyawarahkan sebelum diambil dari tempatnya ditemukan.
...
Helikos keluar dari ruang kerjanya dengan raut wajah kusut meski hari masih pagi.  Katak hijau besar bahan penelitian tim terpadu yang dia pimpin hilang dari kandangnya. Tidak hanya aktivitas penelitian yang akan terhambat, namun juga ancaman bahaya pada penduduk yang bisa ditimbulkan katak hijau itu. Katak hijau yang mereka teliti telah mencapai seukuran drum aspal dan bisa menelan manusia. Berbagai zat kimia yang terkandung dalam tubuh mahluk itu juga bisa meracuni air 120 hektar waduk yang akan membunuh tanaman, hewan lain dan manusia yang mengkonsumsinya. Jika semua itu terjadi, Helikos adalah tersangka utama pihak berwenang.
...
Serta merta setelah mendengar laporan Helkois dan mengecek langsung ke lokasi katak hijau, ketua lingkungan desa segera mengadakan musyawarah yang dihadiri tamu undangan dari kalangan penduduk dan beberapa tetua desa sebayanya serta perwakilan dan tetua 90 desa terdekat. Dugaan kepala lingkungan desa tentang suara katak hijau itu didukung penuh semua tetua dari 90 desa terdekat. Suara itu seperti suara kode kelompok telik sandi unggulan Istana Nyayalesu yang telah hancur ratusan tahun silam. Bahasa sandi ini harus diartikan untuk mengetahui apa yang ingin disampaikan katak hijau yang bisa jadi adalah utusan almarhum Sang Maharaja Resokie Nyayalesu.
...
“Bagaimana menemukan seekor katak hijau besar yang hilang entah ke arah mana?” ialah satu kalimat yang memenuhi otak Helikos hari itu. Bahkan anjing pelacak hanya bisa menemukan jejaknya hingga tepian sungai besar saja. Diduga dia masuk ke sungai, mengikuti arus dan memilih salah satu dari 27 cabang sungai yang ada mulai dari 100 meter setelah jejak terakhirnya terendus. Setelah 8 jam 30 helikopter dikerahkan menyusuri kanal juga belum memperlihatkan hasil. Mahluk itu pasti naik ke darat di suatu titik dan entah pergi ke arah mana. Masih mungkin ditemukan jika dikerahkan seribu orang dan mencarinya di bantaran-bantaran kanal, padang rumput luas atau bahkan hutan lebat yang mengelilingi laboratorium penelitian tempatnya bekerja, tapi pihak laboratorium tidak lagi memiliki dana untuk itu. Tidak hanya dipecat, mungkin dia akan dipenjara untuk kesalahan ini. Lantas siapa lagi yang akan membayar sejumlah biaya pengobatan ayahnya di rumah seperti yang selama ini ditanggungnya.
...
Helkois benar-benar tidak bisa mempercayai ramalan-ramalan dari mulut katak hijau besar yang subuh tadi dia temukan itu. Para tetua desa sepakat mengungkapkan bahwa katak itu berusaha menyampaikan kalimat “Zaman baru akan menghapus zaman lama. Semua hancur digantikan yang baru”. Cara berbicara para tetua yang begitu menggebu menimbulkan rasa tidak percaya di hatin Helkois. Zaman dirinya lahir, juga zaman kakek buyutnya lahir, berdasarkan cerita-cerita masa lalu, tidak ada yang berubah. Desa itu dan 90 desa terdekat tetap demikian adanya, tidak ada yang baru, tidak ada yang hancur.
...
Atas kelalaian itu, Helikos benar-benar dipecat. Ketua satuan petugas keamanan yang harusnya menjadi penaggung jawab utama justru dengan nyaman turut menanda tangani surat pemecatan. Bahkan dalam laboratorium kecil di tengah kawasan hutan itu ada politik egoisme yang sangat menjijikkan. Hal terbaik yang dia pikirkan hanyalah pulang dengan istri ke negaranya dan menengok ayahnya di rumah yang telah puluhan tahun dia tinggalkan. Apapun yang akan dilakukannya kemudian mungkin akan dia pertimbangkan di rumah bersama istri dan ayahnya nanti.
...
Helkois terbaring lemah di ranjang tidurnya yang reot dengan kasur bau apak tak karuan. Ada sepiring nasi, separuh ikan asin dan sejumput sambal serta sebotol mineral air isi ulang di samping bantalnya. Teringat wajah putranya yang tampan berjanji mengiriminya uang untuk perawatan kesehatan dirinya sebelum berangkat meninggalkan rumah untuk bekerja di luar negeri puluhan tahun silam. Kini tak ada sepeserpun yang dia terima. Isteri adiknya yang selalu mengantar makanan sederhana untuk hidupnya dengan sebaris kalimat yang begitu menyakitkan, “Mana kiriman anakmu itu gak nyampe-nyampe? Tidak pernah ada uang masuk ke rekening kami. Sekarang semua mahal!!”.

Dia mulai mengakui kebenaran isi ramalan katak hijau. Kini semua berubah, kini hamparan sawah berubah rupa menjadi gedung-gedung yang menjulang dan hamparan rumah mewah orang-orang baru. Desa, sawah, sungai kecil dan perilaku baik sesama penduduk desa telah hancur digantikan berbagai rupa baru. Kini dia diperbolehkan tinggal di gubuk yang bersandar pada tembok pagar salah satu bangunan tinggi oleh isteri adiknya. Rumahnya sendiri yang dulu begitu terasa nyaman kini entah telah rata menjadi jalan aspal, taman sebuah gedung tinggi atau mungkin kuburan mewah orang-orang baru itu.

Sedang melayang-layang pikirannya, Helkois mendengar sebuah suara di depan pintu. Tidak mungkin ada orang yang sudi mengetuk pintu dan bertamu di gubuknya. Mungkinkah itu puteranya? Helikos?
...
Butuh hampir satu bulan bagi Helikos mengurus surat-surat regulasi perjalannya bersama isteri kembali ke negara asal. Negara asalanya terlihat telah mengalami banyak sekali berubah. Jalan setapak di tengah hutan yang menjadi penghubung 91 desa dengan daerah lain kini menjadi jalan utama daerah penuh toko, kantor, bioskop, restoran dan berbagai bangunan megah. Desanya dan sepertinya 90 desa yang lain juga telah berubah rupa. Di desa-desa itu banyak sekali terbangun gedung menjulang dengan berbagai aktifitas penting berlalulalang. Sempat kebingungan juga mencari-cari tempat tinggal ayahnya karena segalanya telah berbeda. Namun akhirnya bisa dia temukan juga rumah ayahnya itu.

Tapi gubuk yang ditunjukkan orang itu samasekali tidak seperti rumah ayahnya yang ia kenal. Atau perubahan memang sampai sedemikian rupa? Dicobanya saja menuju gubuk itu.

Pintu gubuk terbuka lebar dan bau menyengat segera menerjang hidungnya di jarak 10 meter dari bangunan gubuk. Rasa-rasanya sangat tidak rasional ayahnya tinggal di dalam sana. Kecuali ada hal lain yang tidak diketahuinya.

Di dalam ruangan gubuk, bau semakin menyengat hingga mata Helikos merah berair. Ruangan itu tidak berpenghuni, hanya ada satu dipan bambu tua yang hampir roboh. Ada piring, nasi putih, sebotol air mineral dan sepotong kecil ikan asin berserakan di lantai tanah. Di atas dipan terdapat kasur kumal tak berupa dipenuhi kotoran manusia yang telah kering menghitam. Diperhatikannya lagi sekeliling ruangan sampai terasa ada yang mulai bergerak di bawah dipan.

Slap!! Ada benda yang sangat dia kenal tiba-tiba mengait kakinya. Ditariknya sekuat tenaga benda yang keluar dari bawah dipan itu. Ini bukan musuh baru baginya, katak hijau besar tertarik muncul dari bawah dipan. Diambilnya pestol dari saku, segera ditembakkannya dua peluru ke arah otak katak hijau.

Ada hal lain yang mungkin lebih buruk? Tentu. Helikos berniat membongkar perut katak hijau yang tentunya bisa dengan mudah dia lakukan. Benar dugaannya, wajah kurus dan tubuh koyak ayahnya muncul dari dalam perut katak hijau raksasa yang dibongkarnya. Helkois tidak yakin, tapi setidaknya ada lima atau tujuh nafas yang dihembuskan sebelum akhirnya ayahnya, Helkois, meninggal dunia di pelukannya.

Helkois sendiri sempat mempersiapkan senyum untuk kematiannya di sisa nafasnya. Bahagia rasanya putra yang puluhan tahun dirindukannya kini berhasil mengeluarkan dirinya dari perut katak hijau dalam keadaan hidup, walaupun mungkin hanya untuk beberapa saat saja. Ini Helikos anaknya, anak yang berjanji akan mengirim uang untuk perawatan kesehatan dirinya namun mengingkari janji itu. Anak yang puluhan tahun tidak terlihat dan kini kembali lengkap dengan katak hijau raksasa pembawa suara ramalan yang dulu malah dibawanya pergi juga ketika akan berangkat bekerja ke luar negeri.


====================================================================

Contoh cerpen ini tentu saja sangat jauh bila dibandingkan dengan alur novel Api, Awan, Asap milik Pak Korie Layun Rampan, namun setidaknya ada beberapa poitn yang bisa kita samakan. Point-point tersebut akan kita bahas di (klik) halaman ini.

Tentu saja contoh cerpen di atas juga banyak memiliki kekurangan. Penulis sangat mengharapkan partisipasi para pembaca untuk menuliskan komentar tentang kekurangan-kekurangan yang ada pada contoh cerpen pendek di atas.
Continue Reading... Label: , , , , , , ,


Tips Menulis Novel. Cara Menulis Buku ala Newbie

0 komentar

Tips menulis novel yang akan ditulis di sini tentu bukan tips-tips ajib ala master karena ditulis oleh penulis newbie yang samasekali belum menelurkan, menetaskan atau tepatnya menyelesaikan satupun novel-nya sendiri. Jadi sebenarnya saran-saran ini berlaku juga sepenuhnya untuk saya biar bisa lekas menyelesaikan novel.

Tips menulis novel berikut hanya pengalaman pribadi yang dirangkai dengan imajinasi penyelesaian yang belum diterapkan. Walaupun mungkin jauh dari valid, insyaallah bisa dipertimbangkan bersama. Toh kalau ada salah satu atau semua tips menulis novel berikut keliru, ada anda sekalian yang bersedia mengoreksi dan menulis komentar di kolom bawah (PD).

Berikut tips menulis novel dan mungkin bisa diterapkan sebagai cara menulis buku lain.

1. Referensi yang Banyak
Tips menulis buku yang pertama adalah referensi banyak novel, buku EYD dan berbagai artikel kepenulisan. Menurut saya 100 novel kecil (50 novel tebal) dan 1 buku EYD sudah dianggap cukup sebagai referensi novel pertama kita. Selain bisa memperkaya ide, banyak referensi novel lain berarti memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai macam permainan alur, berbagai macam teknik pembentukan karakter, berbagai macam penyuguhan konflik, berbagai macam diksi dan berbagai hasil dari teknik-teknik menulis secara langsung.

Biasakan menganalisa permasalahan lingkungan, sosial dan politik, termasuk analisa tulisan sebuah novel agar ide cerita dan metode penulisan kita semakin banyak. Apapun yang bisa menjadi referensi sebaiknya kita perhatikan dengan baik. Termasuk juga gosip selingkuh artis atau tetangga sendiri, daripada ikut menyebarkan info yang tidak bermanfaat itu lebih baik menjadikan kasus tersebut sebagai ide novel yang lebih bermanfaat.

2. Banyak Menulis Cerpen
Tips menulis novel berikutnya adalah banyak praktek menulis cerpen. Saya sendiri merasa menulis novel membutuhkan kemampuan, waktu, ide dan alur yang jauh lebih banyak daripada cerpen (Ya iya lah!!). Maka sebelum mencapai ke titik novel, sebaiknya kita banyak menulis cerpen untuk melatih kemampuan menulis dan melatih otak untuk terbuka pada keluasan ide baru. Tentu saja aturan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) juga bisa diasah ketika kita banyak-banyak menulis cerpen.

3. Menulis Kroyokan
Tips menulis novel yang ke-tiga adalah mengerjakan novel bersama dengan teman. Karena dengan mengerjakan sendiri bisa jadi kemampuan kita, daya tangkap ide kita dan waktu kita tidak mencukupi untuk menulis novel seorang diri. Sebagai penulis pemula hal ini bisa saja dilakukan bial ada koordinasi yang baik.

4. Menulis Kisah Sejarah
Tips menulis novel berikutnya adalah dengan menulis kisah sejarah. Kenapa kisah sejarah?, karena runtutan cerita, tokoh dan kejadian-kejadian dan materi-materi lain telah ada sehingga dapat membantu kita para penulis pemula dalam hal pencarian ide, pengaturan alur dan penciptaan kejadian. Hanya saja kita harus bisa memburu kisah sejarah berdasarkan data yang outentik. Jika memang mengantarkan sejarah, sebisa mungkin seluruh bagian novel sesuai dengan kisah masa lalu yang sebenarnya.

5. Dokumentasi Ide
Tips menulis novel terakhir di artikel ini adalah dokumentasi ide. Saya sendiri sering kali tiba-tiba mendapatkan ide, dan lupa beberapa menit kemudian. Jadi di sini kita sebaiknya menuliskan dahulu beberapa bagian inti novel kita. Misal akan terdiri dari 20 bagian. Setiap bagian memiliki satu sub judul novel. Kadang tiba-tiba kita mendapatkan ide untuk bagian 13, langsung saja di tulis di kolom bagian 13 agar beberapa waktu kedepan ide tersebut tidak hilang dan kemungkinan besar bisa diterapkan di novel kita.

Sekian artikel Tips Menulis Novel dari saya. Semoga bisa diterima walau seadanya. Semoga juga bisa digunakan sebagai referensi tips menulis buku lain. Bila ada yang kurang pas dengan artikel Tips Menulis Novel ini, silahkan tulis saran anda di kolom komentar di bawah ini.
Continue Reading... Label: , , , , , , ,


Cerpen Rakyat. Cerpen "Kemuning"

0 komentar

 Cerpen rakyat ini tulisan saya sendiri di masa-masa SMA. Tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi menurut saya, dari beberapa cerpen yang telah saya tulis, cerpen rakyat "Kemuning" ini yang memiliki tema berbeda dan unik.

=============================================================================
 KEMUNING

Desa Kemuning, desa damai dipinggir hutan tenang itu tiba-tiba gempar-cemarut. Lolongan seorang wanita menuik menguasai udara. Aktivitas pasar, sawah dan segenap dapur terhenti. ”suara siapa itu?”,, ”itu mbah nah, tetanggaku”, laki-laki sang penjawab yang ternyata bernama Kasno itu segera menggaet sepedahnya dan mengayuh cepat-cepat, pulang. Semua orang di pasar mengikutinya tanpa satupun tertinggal. Juga semua orang di sawah dan di rumah-rumah. Semua memiliki satu pertanyaan yang sama. ”apa yang bisa membuat seorang wanita tua bersedia memberikan lolongan terkerasnya??”.
 
 Tiba-tiba saja gubuk yang hampir ambruk itu dikrubuti orang. Sebagai pusat kerumunan adalah seorang wanita tua yang melolong tak terkendali. Beberapa laki-laki dan perempuan mencoba menenangkan, tapi tak berpengaruh, nenek-nenek yang dipanggil mbah nah itu malah kosel-kosel meronta-ronta gila. Istri kasno dan ambar, janda yang rumahnya terhalang lima meter tanah kosong tempat di mana mbah nah melolong ngeri, tak tahu apa sabab-musababnya. Semua orang tercenung dan tak dapat berkomentar apapun. Angin siang yang panas berhembus menarik-narik rambut mbah nah yang putih, ikal, kusut dan trurai,, Lama kemudian,, lolongan itu tetaplah berwujud lolongan, tak reda. Bahkan seperti tak akan pernah reda.
 

Tersebutlah Parka, Parka adalah menantu dari keponakan cicitnya adik almarhum kakak ipar mbah nah. Mungkin hubungan persaudaraan itulah yang membuat dia merasa berhak untuk mencoba memulai penyelidikan. ”mungkin dia kehilangan uang banyak”, katanya. Sontak saja semua mata serentak memburunya, membuat dia gugup dan kagok. Untungnya tak lama kemudian semua mata beralih ke Kasno ketika dia bertanya, ”kau pikir seberapa banyak uang mbah nah sehingga dia menjadi gila karena kehilangan uang itu, parka?”. ”bukankah kita semua tidak tahu berapa banyak uang yang dimiliki mbah nah,,, siapa tahu mbah nah punya simpanan uang banyak, dan sekarang hilang, mungkin yang curi orang-orang dekat sini saja”. kembali perkataan Parka ini membuat semua mata serentak menghujam mentalnya, membuat dia kembali gugup dan merunduk. Kasno yang merasa tersinggung menimpali,, ” darimana dia mendapat uang sebanyak itu, sedangkan saudaranya tak pernah memberi nasi se-pincukpun. Malah kami yang dekat-dekat ini yang berusaha membantu”. Semua mata kembali berpindah menyorot Kasno, mencoba memahami rasa ketersinggungannya. Kalau saja tak banyak orang di situ, mungkin sudah hancur parka itu dihajar kasno. Masih kecil, bodoh dan lamban sudah tajam lidahnya, minta ditumpulkan pakai tinju rupanya. Lalu, setelah beberapa sa’at, mata-mata itu kembali menagih parka, menanti kalimat yang mungkin akan muncul dari mulutnya. Tapi tidak, parka tetap diam dan merunduk gugup. Mungkin dia merasa salah, kalah, atau mungkin juga dia tak sanggup lagi menahan siksaan mental ketika harus menghadapi pandangan dari sebegitu banyaknya orang. Dia berhenti. Ini juga yang membuat segenap warga menghentikan lempar-lemparan pandang yang sejak tadi serempak meraka lakukan. Kini semua mata kembali ke satu titik. Mbah nah.,, mbah nah dan mulutnya yang masih menembangkan lolongan paraunya.
 
“mungkin dia kesurupan”. Kata ambar tiba-tiba. Segenap warga yang tadinya hening jadi nggremeng, Bicara tak jelas ke kanan-kirinya. Menimbulkan suara yang mirip suara lebah berdengung. Lain lagi dengan pak sapuan. Tanpa kepenuhan bicara, dengan tegas dan tlikas dia memerintah beberapa orang untuk bergegas keluar dari kerumunan dan secepatnya pergi kerumah wak kaji. Di Kemuning, wak kaji-lah yang dipercaya mampu mengusir setan dan menyuruhnya pindah ke hutan. Pernah idris, anak bungsu ambar itu ketempelan jin ketika mandi di kali. Mungkin karena tak sengaja mematahkan ranting tempat tinggal sang jin, membuat sang tuan rumah marah. Muka si idris itu separuh merah dan separuh hijau lebam. Dia berteriak dan menggelinjang tak terhenti jika didekati manusia sehingga oleh ambar disembunyikannya anaknya itu di dalam kamar. Segera setelah tiba, wak kaji menyalaminya dengan jabatan sekaligus ucapan. Gemeratak bunyi garam dalam genggaman tangan antara keduanya membuat mata idris melotot seperti mata barong. Tak merenggang eratnya genggaman wak kaji, malah ditahannya genggaman itu beberapa menit. Dan pada akhirnya, diawali dengan perkenalan basa-basi dan ditutup dengan sedikit ancaman tajam,, ternyata sudah cukup untuk membuat jin itu pergi mencari rumah baru. Untuk pekerjaan semacam ini, wak kaji tidak pernah menerima upah. Tapi, tidak setiap orang dia mau mengobatinya. Tak pernah ada yang tahu bagaimana rumusan yang dia gunakan untuk memilih-milih dan mempertimbangkannya.
 
Sementara itu, pak sapuan yang memang terbiasa jadi ketua panitia di berbagai acara desa, kini kembali membentuk panitia kilat yang bertugas sebagai tim penggeledah rumah mbah nah. Kasno diangkat sebagai pemimpin tim penggeledah Karena menurut pak sapuan, dia-lah yang paling paham tentang arsitektur artistika gubuk mbah nah. Secepatnya tim itu bolak-balik-keluar-masuk rumah mbah nah. Segala sudut-sisi, gelaran-lipatan dan luar-dalamnya rumah mbah nah diperiksa seteliti mungkin, mungkin saja ada hal yang bisa ditemukan dan dijadikan petunjuk. Ketika itu, di samping kesibukan-kesibukan itu, mbah nah masih saja terus menyalakkan lolongan tajamnya. Melengking-lengking di langit desa.
 
Wak kaji dan rombongan sampai di lokasi. Tak langsung menolong, wak kaji yang menggenggam segenggam garam itu berhenti dan diam sejenak mengamati situasi, saat itulah tim penggeledah keluar dan merenggut semua tatapan mata yang memancarkan rasa harap-harap cemas. Ternyata hasilnya NIHIL… Namun ternyata hal itu-lah yang malah membuat wak kaji semangat melangkahkan kakinya dan mulai menembus kerumunan. Langkahnya yang mantap tiba-tiba terhenti setelah matanya menangakap sorot mata mbah nah. Ada yang berbeda,, ”dia tidak ketempalan jin. .. matanya manusiawi kok, ,,”. Hening sejenak sebelum wak kaji mengulang lagi kata-katanya, ”dia tidak kesurupan..!!”. Dan membuat semua orang tak mampu lagi berfikir, semua hanya diam dan mubazir.
 
“panggillah dulu mbah marin, siapa tahu dia tahu apa permasalahan temannya ini”. Kasno menerima bisikan ini dari istrinya. Kasno yang merasa hanya memiliki tenaga dan sepeda onthel tua untuk bisa membantu, berusaha memberikan dua potensi itu se-maksimal mungkin. Diraihnya si onthel dan dikayuh cepat menyusul mabah marin.

mbah marin adalah sahabat dekat mbah nah sejak kecil. Mereka adalah cicit- cicit dua keluarga pembabat desa itu, dua keluarga pembuka Kemuning. Tak pernah dan tak boleh ada rahasia diantara kedua sahabat itu. Mbah nah akan langsung tahu permasalahan yang ada setelah dilihatnya mata sedih mbah marin, asli tanpa penjelasan yang bagaimanapun. Sebaliknya pula jika mbah nah yang tertimpa masalah.
 
Rumah mbah nah tepat di ujung utara desa Kemuning, sedangkan rumah mbah marin berada di tepian selatan desa. Ada yang percaya bahwa mereka berdua adalah lambang penjagaan desa dari segala macam balak dan bahaya. Kini keduanya diperkirakan berumur sembilan puluh-an. Masing-masing tak mampu lagi saling berkunjung untuk bercengkrama. Tapi, konon mereka berdua dapat saling berkomunikasi batin. Kasno dan istrinya sangat tahu tentang hal ini. Jadi, walaupun telat, mereka pikir, pasti mbah marin tahu dan paham apa yang sebetulnya terjadi, bagaimana akarnya hingga membuahkan lolongan yang sampai saat itu belum juga berhenti,, lolongan yang terus mengiris hati setiap orang,, lolongan yang terus menyengat telinga semua pendengar,,

,, lolongan yang terasa memiliki sisi simetris antara mistis dan spiritual yang agung ,,

Setibanya kasno dan mbah marin, keadaan tetap tak berubah. Memancarkan lelah dan putus asa dari semua pihak. Mbah marin menembus kerumunan dengan papahan kasno. Nenek renta itu malah tersenyum setelah melihat keadaan mbah nah yang semakin mengenaskan, membuat semua orang tambah bingung. ”kasno, dan apalagi kamu ambar. Tentu kalian tahu kayu sebesar lengan yang tingginya kira-kira satu depa dan tadinya tertancap di tempat temanku si nah itu, ya , , tepat di situ. Tahu tho?”, kata-kata mbah marin terhenti sebentar oleh sedikit batuk bau tanah khas orang tua. Membuat suasana kembali hening menunggu… ”kayu itulah yang hilang, bukan sekedar uang atau giwang. Kayu itu bahkan lebih dia jaga daripada anaknya yang mati tak terurus itu. Keyakinannya, entah karena apa, dia letakkan di kayu itu. Dan sekarang kayu itu hilang. Dia tak akan pernah bisa terima”.
 
Sepi, semua melongo. Yang paham memaklumi walau tetap tidak bisa setuju. ”keyakinan kok ditaruh di kayu, tak boleh seperti itu, syirik namanya, menyekutukan Tuhan. Haram, Neraka”. Yang tak paham, tanpa pikir panjang, mulai mengeluarkan celotehan, memamerkan keahliannya mengolah lidah,, , ”orang kehilangan kayu saja kok edan, di rumahku banyak kayu bakar, mau yang segede apa juga ada. Tiwas rebut-ribut gini, bikin capek orang saja, masak orang sekampung gini ngumpul Cuma disuruh bahas kayu ilang , mungkin Cuma gara-gara kudisnya kumat jadi kayak gitu, mungkin kudis itu kudis parah yang gatalnya minta ampun”. Membuat dengungan-dengungan kembali keluar dari mulut-mulut.
 
Wak kaji yang mulai memahami dan menyadari titik inti ini mulai berbicara lagi, ”jadi mbah nah kita ini kehilangan keyakinan, saudara-saudara sekalian. Saya-pun akan gila jika Tuhan yang saya yakini dengan teguh tiba-tiba lenyap atau musnah. Syukurnya ALLAH tak kan pernah hilang atau musnah…. (jeda sejenak) …Dia tidak kerasukan mahluk halus, melainkan kerasukan keyakinan yang dia buat dan dipercayainya sendiri. Tidak ada gangguan dari luar. Maslah ini murni berasal dari dalam diri sendiri”.
 
Tapi ternyata ada yang tidak terima. Pak sapuan menyela,, ”saya kira ada juga apa yang disebutkan sebagai gangguan dari luar itu. Bagaimana tragedi kayu itu bisa hilang adalah karena dicuri, entah oleh manusia atau rayap, yang penting itulah kesalahan dari luar. Saya kira, sebaiknya kayu keyakinan itu harus diketemukan agar supaya keadaan daripada mbah nah cepat semakin membaik pula. Dia hanya akan tenang jika dan hanya jika kayunya ia pegang kembali, jika dan hanya jika keyakinannya ia peluk kembali”,, Pak sapuan ini adalah orang yang dipandang penting dan intlek di desa Kemuning itu. Maka, setiap berbicara, selalu akan ditumpahkannya seluruh perbendaharaan kata-kata yang terlihat baku, mantap dan berwibawa walau hasilnya akan menjadi kalimat yang akan dihina guru bahasa Indonesia dan tidak dipahami khalayak penduduk.
 
Setelah kalimat pak sapuan terlontar, mulut-mulut kembali tak tahan untuk mengumbar clometan masing-masing...”mungkin ambar atau istrinya kasno yang ambil untuk kayu bakar”,, ”agh!... Cuma kayu ilang, sampe gila, kasihan daganganku tak tinggal”,, ”ayo!!... langsung aja dicari kayunya, kasihan mbah nah udah lemes gitu”,, ”kayu kok diyakini ini gimana tho??”,, ”mbah nah pasti sudah gila sebelum kayu itu hilang”,, ”jadinya mbah nah ini kehilangan kayu bakar apa kehilangan apa tho??” ,,.. dan sebagainya…. Semua punya opini, tapi diungkapkan kekanan-kiri dengan tidak jelas, menciptakan suara dengungan-dengungan aneh di udara. Sedangkan mbah nah masih saja melolong, walau telah lumat-lemas badan, mata dan mulutnya, meski telah hancur suaranya, ia tetap konsisten pada lolongannya, pada teguh keyakinannya. Udara sore itu dipenuhi dengungan dan lolongan… .. langit senja dengan lengang berbunyi yang aneh.. . .…
 
Kasno yang tak sabar dengan keadaan yang tak pasti itu angkat Tanya. “jadi kayunya dicari apa tidak??, saya manut saja”.. Seketika itu, sebelum seorangpun berfikir untuk menjawab, wak kaji dengan segera melompatkan sergahannya ,, “jangan!!!..., keyakinan itu hanya untuk ALLAH, bukan untuk kayu. Jangan Bantu mbah nah pergi ke neraka bersama kayunya,, Bagi yang tega ikut-ikutan mencari, berarti dia tega kalau tak kan pernah aku mau mengobati anaknya kalau sewaktu-waktu kesurupan. Percayalah, Ini kerja SETAN!!! Kalian dengar….. SETAN!!!....”. Kemudian wak kaji meninggalkan kerumunan itu. Sebagian yang sudah capek dan kesal, terutama beberapa orang yang dari pasar, turut pergi tanpa suara. Terhuyung-huyung mereka kembali ke tempat masing-masing dengan hati tak menentu, mungkin karena mereka belum tahu penyelesaian cerita aneh mbah nah ini. Tapi tak ada manfa’atnya juga kalaupun tetap di situ, pikir mereka.
 
“sekarang gimana pak?”. Kasno yang sudah gatal kesabarannya bertanya lagi. “Genahnya kita harus gimana??, saya pusing dari tadi bingung-bingungan terus”. Arah pandangan maupun arah pertanyaan kasno kali ini tepat memburu pak sapuan yang menurutnya paling mampu mengatur dan berbicara. Dia dan yang lain pantasnya menjadi pihak yang menerima perintah-perintah itu. Jadi jelas siapa yang harus memerintah dan siapa yang harus trima untuk diperintah.
 
Pak sapuan, semua mata memandang dirinya. Membuat dia merasa tertimbun tanggungan penyelesaian masalah. Dia terpaku, kenapa dia yang tiba-tiba terkena tanggung jawab??,, kasno tak punya otak, kasno seperti mewakili warga melongsorkan tanggung jawab ini padanya. Lalu bagaimana pula penyelesaian yang harus dia ambil untuk masalah konyol seperti ini. Benar-benar bukan permasalahan yang seharusnya dia pikirkan.
 
Dan, yang akhirnya keluar dari mulut pak sapuan adalah, “ ah… kita kan sudah tahu mbah nah begini karena kehilangan barang. Ya… sudah, kita cari saja barang itu. Semua berpencar dan cari kayu itu!!...”. Seketika buyarlah semua orang, ada yang bertekat ikut mencari kayu keramat itu, ada yang tidak ikut karena takut ancaman wak kaji, ada pula yang lebih memilih pulang dan makan.
Sedangkan keadaan mbah nah, tetap dengan tingkah yang sama. Mbah nah masih saja melolong, sendirian… .
Walau bernada lebih rendah dan sangat serak, lolongan teruslah berupa lolongan.

“ mana kayuku… .. . ?? mana keyakinanku.. .. .”,,

- Hingga sore menjelang malam.



`Kamis, 23 juni 2009
Di Rongga triplex 
=============================================================================

Demikian cerpen rakyat berjudul "Kemuning". Silahkan tinggalkan komentar, kritik dan saran di kolom komentar di bawah ini.
Continue Reading... Label: , , , , , , ,


Baca juga yang ini

 

Follower

Anda Pengunjung ke

qb Group

Return to top of page Copyright © 2010 | Flash News Converted into Blogger Template by HackTutors